PEKANBARU - Serangan monyet liar yang terjadi di Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, telah menyebabkan jumlah korban meningkat menjadi 14 orang. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Junaidi Ismail, mengungkapkan bahwa insiden ini telah terjadi sebanyak 15 kali.
“Jumlah serangan monyet sudah 15 kali, dengan korban 14 orang. Ada satu orang yang diserang dua kali,” jelas Junaidi melalui sambungan telepon pada Selasa (4/8/2026). Ia menambahkan bahwa seluruh korban telah menerima perawatan medis, termasuk vaksinasi untuk mencegah rabies. Biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah, sehingga tidak ada biaya yang dibebankan kepada para korban.
Upaya Penangkapan Monyet Liar
Sampai saat ini, satu ekor monyet yang terlibat dalam serangan terhadap warga masih belum berhasil ditangkap. Junaidi menyatakan bahwa petugas mengalami kesulitan dalam menangkap monyet tersebut karena kelincahannya. “Monyet ini main di bawah rumah panggung dan di atas bangunan rumah warga. Geraknya sangat lincah,” tuturnya.
Meski demikian, petugas DPKP terus berusaha untuk menangkap monyet liar tersebut. “Masih kami upayakan untuk menangkapnya. Anggota kami saat ini masih berada di lapangan. Masyarakat juga kami imbau untuk tetap waspada,” tambah Junaidi.
Awal Teror Monyet Liar
Serangan monyet liar ini mulai terjadi sejak 25 Juli 2026, diduga disebabkan oleh satu ekor monyet ekor panjang yang menyerang warga. Monyet berukuran besar tersebut datang ke rumah-rumah dan menyerang, mengakibatkan sejumlah korban mengalami luka gigitan dan cakaran di berbagai bagian tubuh, termasuk kaki, tangan, dan punggung.
Korban yang terlibat dalam insiden ini meliputi orang dewasa, anak-anak, dan lansia. Sejak kejadian awal, petugas DPKP telah berupaya memburu monyet yang menyebabkan teror ini.