BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 09:08 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Selasa, 11 Agt 2026 06:23 WIB

Kabut Pagi Menyelimuti Kulon Progo, Ini Penyebabnya

11 Agt 2026, 06:23 WIB 55x dibaca 3 menit baca yogyakarta.kompas.com yogyakarta.kompas.com
G
Galih Lingga Pradipta 55x dibaca · 3 menit baca
Pengendara motor menyibak kabut tebal di jalan nasional kawasan Tugu Pensil, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Fenomena kabut jamak terjadi pada puncak musim kemarau setiap tahun.(DOKUMENTASI WARGA/RATNA-KOMINFOKP)
Pengendara motor menyibak kabut tebal di jalan nasional kawasan Tugu Pensil, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Fenomena kabut jamak terjadi pada puncak musim kemarau setiap tahun.(DOKUMENTASI WARGA/RATNA-KOMINFOKP)

KULON PROGO, KOMPAS.com - Selama musim kemarau, kabut kerap menyelimuti berbagai daerah di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama pada pagi hari. Fenomena ini umumnya terjadi sejak subuh hingga pagi, dan dapat terlihat hingga ke jalan raya. Di beberapa tempat, kabut bahkan cukup tebal, yang dapat mengurangi jarak pandang bagi para pengendara.

Bhakti Wira Kusumah, seorang prakirawan dari Stasiun Meteorologi Yogyakarta, menjelaskan bahwa kabut adalah fenomena yang biasa terjadi selama musim kemarau. Ia menyebutkan bahwa fenomena ini berkaitan dengan pergerakan massa udara dingin dari selatan menuju utara, mendekati wilayah selatan Pulau Jawa.

Massa Udara Dingin Sebabkan Kabut

Bhakti menjelaskan bahwa massa udara dingin menyebabkan penurunan suhu udara pada lapisan bawah dan atas dengan cepat pada malam hari. Pada saat yang sama, permukaan bumi melepaskan panas dari malam hingga pagi. Namun, udara panas tersebut terperangkap oleh massa udara dingin yang berada di atasnya. "Kondisi ini menyebabkan terjadinya kondensasi titik-titik air mengambang atau yang biasa disebut sebagai kabut," ujarnya.

Proses ini menyebabkan terbentuknya titik-titik air yang melayang di udara, sehingga terlihat sebagai kabut di pagi hari. Kabut biasanya mulai terlihat sejak subuh dan akan berangsur menghilang ketika sinar matahari mulai menghangatkan permukaan bumi. Seorang warga setempat, Poniman, menyatakan bahwa kabut di Kulon Progo biasanya cukup tebal sekitar pukul 06.00 WIB. "Biasanya sekitar pukul 06.00 WIB pagi, kabutnya cukup tebal sampai ke jalan," katanya. Menurutnya, kabut mulai menghilang sekitar pukul 07.00 WIB saat matahari mulai bersinar terik.

Kondisi Lingkungan Mempengaruhi Kabut

Selain pengaruh massa udara dingin, kondisi lingkungan di Kulon Progo juga berkontribusi terhadap tingginya potensi kabut. Bhakti menjelaskan bahwa banyaknya vegetasi dan jalur air di daerah tersebut meningkatkan kelembapan udara, yang mendukung terbentuknya kabut pada pagi hari. Vegetasi yang melimpah juga membuat suhu udara di beberapa wilayah Kulon Progo lebih dingin selama musim kemarau. Ia mencatat bahwa suhu terendah pernah mencapai 19 derajat Celsius di Kapanewon Nanggulan. "Kondisi di Kulon Progo berbeda dengan daerah perkotaan yang memiliki vegetasi lebih sedikit, sehingga potensi terjadinya kabut juga lebih rendah," tambahnya.

Kemunculan kabut pada pagi hari bukan hanya fenomena cuaca, tetapi juga menjadi perhatian bagi pengguna jalan. Kabut yang cukup tebal dapat membatasi jarak pandang, terutama di jalur yang ramai kendaraan. Pantauan di Jalan Nasional Wates-Yogyakarta menunjukkan bahwa kabut tipis masih terlihat meski waktu sudah mendekati pukul 07.00 WIB. Poniman menyebutkan bahwa kabut yang muncul beberapa hari sebelumnya bahkan lebih tebal dibandingkan kondisi saat itu. "Kalau ini tebalnya masih biasa, masih aman untuk pengendara," tuturnya.

Bhakti juga mengingatkan masyarakat, khususnya pengendara, untuk tetap waspada terhadap kondisi ini karena kabut dapat mengganggu jarak pandang. Fenomena kabut di Kulon Progo diperkirakan akan terus terjadi hingga akhir Agustus, seiring dengan karakter musim kemarau yang masih berlangsung serta kondisi suhu dan kelembapan di wilayah tersebut. Dengan demikian, kemunculan kabut pada pagi hari di Kulon Progo bukanlah tanda akan turunnya hujan.