SURABAYA – Luas area hutan dan lahan yang terpengaruh kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meningkat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur melaporkan bahwa hingga Senin (10/8/2026), lahan yang terbakar telah mencapai 742 hektare.
Gatot Soebroto, Kepala BPBD Jatim, mengonfirmasi bahwa “Untuk kebakaran Bromo hari ini sudah berdampak pada 742 hektar lahan yang terbakar.” Saat ini, tim gabungan dari berbagai instansi masih berupaya memadamkan api melalui jalur darat dan udara. Penanganan dari udara diperkuat dengan penambahan armada helikopter untuk melakukan water bombing.
Upaya Pemadaman dengan Helikopter
Tiga helikopter, termasuk jenis Airbus dan Super Puma, telah dikerahkan untuk membantu pemadaman. Selain itu, satu drone dan delapan unit mobil pemadam kebakaran juga digunakan dalam operasi ini. Petugas yang terlibat berasal dari berbagai instansi, termasuk Damkar Kota Surabaya, BPBD dari beberapa daerah seperti Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Malang, serta BPBD Provinsi Jawa Timur.
Dalam upaya ini, personel dari TNI dan Polri juga dilibatkan, bersama dengan relawan. “Proses pemadaman terus dilakukan dengan menggunakan tiga helikopter, satu drone, delapan pemadam kebakaran, dan tim yang terlibat ada dukungan BNPB dua unit heli alhamdulillah terus berjalan plus satu heli dari Pemprov Jatim,” jelas Gatot.
Penyebaran Api dan Fokus Pemadaman
Operasi water bombing diperluas seiring dengan bertambahnya titik kebakaran di kawasan TNBTS. Api dilaporkan telah menjalar hingga Jemplang, yang merupakan kawasan perbukitan dan persimpangan jalur wisata di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Gatot menambahkan bahwa fokus pemadaman dari udara kini diarahkan pada lokasi-lokasi yang masih menunjukkan tanda-tanda kebakaran. “Saat ini water bombing lebih fokus pada area P30 daerah Jemplang di wilayah Pasuruan serta daerah-daerah yang masih punya potensi titik api dengan dilihat dari adanya kepulan asap yang timbul,” ujarnya.