MATARAM – Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dipenuhi dengan suasana cemas setelah terjadinya kebakaran pada Kapal Motor Penumpang (KMP) Putri Yasmin di perairan Sekotong pada Rabu, 12 Agustus 2026. Salah satu keluarga penumpang yang merasakan kecemasan yang mendalam adalah I Gede Agus Arsani, warga Mataram, yang terus menunggu kabar mengenai anaknya, Agus Werdiase, yang merupakan penumpang kapal dalam perjalanan dari Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Bali menuju Pelabuhan ASDP Lembar, Lombok Barat.
Kekhawatiran Agus semakin meningkat karena komunikasi terakhir dengan putranya terjadi pada pukul 04.21 WITA melalui pesan singkat WhatsApp sebelum semua komunikasi terputus. "Kabar terakhir dari anak saya itu sekira pukul 4.21, dia sempat hubungi saya," ungkap Agus saat dijumpai di Pelabuhan Lembar. Pesan yang dikirimkan anaknya menjadi kenangan yang terus terngiang dalam pikirannya.
Pesan Terakhir yang Mengkhawatirkan
Agus mengingat kembali pesan anaknya yang berbunyi, "Kapal Alit terbakar, Pak." Agus Werdiase adalah anak ketiga Agus yang saat ini sedang menjalani pendidikan militer di Bali. Ia menumpangi KMP Putri Yasmin untuk pulang ke Lembar. "Anak saya cowo di sana sedang pelatihan TNI, dia sedang perjalanan pulang ke Lembar," jelasnya. Di tengah penantian yang penuh harapan, Agus berharap tim SAR dapat menemukan putranya dalam keadaan selamat, sambil mengenang berbagai cerita yang sering dibagikan Agus Werdiase selama mengikuti pelatihan militer.
Proses Evakuasi Korban
Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian dan evakuasi korban dari insiden kebakaran KMP Putri Yasmin secara intensif. Hingga pukul 11.00 WITA, beberapa korban telah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Tiga korban terbaru telah dibawa ke Pelabuhan Lembar dengan menggunakan kapal cepat. Dari ketiga korban tersebut, satu orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan dua lainnya dievakuasi dalam kondisi lemas.
Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi, menyampaikan bahwa sejumlah armada utama telah dikerahkan ke perairan Sekotong untuk mencari keberadaan korban. "Armada yang dikerahkan antara lain KN 220 Mataram, Rigid Inflatable Boat (RIB), dan Rigid Buoyancy Boat (RBB)," jelasnya. Selain armada dari Mataram, operasi ini juga melibatkan dukungan dari Kantor SAR Denpasar yang mengirim KN SAR Arjuna serta helikopter dari SGi Air Bali untuk pemantauan udara.
Posko DVI untuk Penanganan Korban
Menanggapi kebakaran kapal yang dimiliki PT JEMLA (Jembatan Lautan), Polda Bali segera menyiapkan sarana tanggap darurat dan pusat informasi. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Bali bersama Sidokkes Polres Karangasem telah membuka Posko Pengaduan Orang Hilang di Pelabuhan ASDP Padangbai untuk membantu keluarga korban. Kepala Bidang Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan proses pendataan dan penanganan korban berjalan dengan baik.
"Kami telah membuka Posko Pengaduan Orang Hilang di area ASDP Padangbai untuk membantu masyarakat yang mencari keberadaan anggota keluarganya," kata Kombes Pol Ariasandy. Operasi di lapangan dipimpin oleh Kabiddokkes Polda Bali, Kombes Pol dr. Komang Nurada Mahardana, Sp.THT-KL, yang langsung mengecek kesiapan di Pelabuhan Padangbai. Peninjauan dilakukan untuk memastikan pengumpulan data ante-mortem dan post-mortem berjalan sesuai prosedur.
Selain fokus pada identifikasi korban, tim medis juga disiagakan untuk memberikan layanan kesehatan darurat kepada korban selamat dan warga terdampak, guna meminimalisasi trauma fisik dan psikologis. "Tim medis tidak hanya fokus pada proses identifikasi, tetapi juga memberikan layanan kesehatan langsung bagi para korban di lokasi," tambah Ariasandy.