SOLO - Kemenangan Persis Solo atas Dewa United dalam pertandingan Super League pekan ke-33 yang berlangsung di Stadion Manahan pada Sabtu malam (16/5/2026) diwarnai dengan pesta flare. Suporter menyalakan sejumlah flare setelah wasit Thoriq Alkatiri meniup peluit panjang menandakan berakhirnya pertandingan. Perayaan tersebut merupakan ungkapan kegembiraan para pendukung Laskar Sambernyawa setelah tim kesayangan mereka menang dengan skor 1-0 di laga kandang terakhir musim ini.
Namun, di balik euforia tersebut, manajemen Persis Solo menyatakan penyesalan atas aksi penyalaan flare dan bom asap yang berdampak pada kesehatan sejumlah penonton. Hal ini juga berpotensi menimbulkan sanksi dari Komisi Disiplin PSSI.
Flare Menyala di Stadion Manahan
Menurut laporan dari Tribun Solo pada Minggu (17/5/2026), flare pertama kali terlihat menyala dari tribun sisi Timur Stadion Manahan. Tak lama setelah itu, flare lainnya dinyalakan di berbagai tribun, termasuk area VIP di sayap Selatan. Suasana stadion pun dipenuhi asap merah dan sorak-sorai suporter yang merayakan tambahan tiga poin penting bagi Persis Solo. Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) juga hadir dan terlihat menikmati momen tersebut dari tempat duduknya.
Kaesang Pangarep, pemilik Persis Solo, yang hadir bersama Astrid Widayani, juga tampak merasakan kebahagiaan dalam perayaan kemenangan ini.
Delapan Penonton Mengalami Sesak Napas
Direktur PT Persis Solo Saestu (PSS) sekaligus Ketua Panitia Pelaksana pertandingan, Ginda Ferachtriawan, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat menyayangkan penyalaan flare dan bom asap di dalam stadion. Ia menyebutkan bahwa delapan penonton memerlukan perawatan medis akibat sesak napas setelah stadion dipenuhi asap. "Yang dirawat kurang lebih ada 8 orang dari laporan yang kami terima kemarin langsung dibawa ke ambulans yang standby di lokasi," jelas Ginda.
Ia menambahkan, "Sebagian sesak napas, sebagian juga kaget. Beberapa anak kecil dibawa ibunya minta diamankan lah ya, takut ada itu (flare)." Ginda juga menjelaskan bahwa kondisi atap tertutup Stadion Manahan membuat asap sulit keluar, sehingga mengganggu kenyamanan penonton. "Jangan samakan dengan beberapa stadion lain ya yang atapnya lebih terbuka karena asapnya lebih sulit keluar," ujarnya.
Ginda menegaskan bahwa panitia pelaksana bersama aparat kepolisian telah melakukan pemeriksaan ketat sebelum pertandingan. Beberapa flare dan kembang api telah diamankan sebelum laga dimulai.
Polisi Amankan Suporter dan Barang Bukti
Sebanyak 33 suporter Persis Solo ditangkap oleh Polresta Solo akibat penyalaan flare dan petasan saat pertandingan berlangsung. Kabag Ops Polresta Solo Kompol Wahyu Joko Nugroho menyatakan bahwa polisi telah melakukan sterilisasi stadion dan pemeriksaan ketat kepada penonton yang masuk. "Sudah kita amankan sebanyak 32 orang yang membawa flare dan satu orang membawa petasan," ungkap Wahyu.
Polisi juga menemukan empat kotak flare yang diduga disimpan di area stadion sebelum pertandingan. Selain itu, sejumlah barang bukti seperti 23 flare, dua smoke ukuran besar, lima smoke ukuran kecil, dua petasan flare, sembilan kembang api, dan satu botol minuman keras disita. Para suporter yang diamankan diketahui berasal dari Sukoharjo, Sragen, dan Klaten, dan mereka dibawa ke Mako Polresta Solo untuk didata dan diberikan pembinaan tanpa penahanan.
Pihak kepolisian juga mengimbau suporter untuk tidak membawa barang-barang terlarang agar Persis Solo terhindar dari sanksi Komdis PSSI.
Kemenangan atas Dewa United menjaga peluang Persis Solo untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Saat ini, Persis Solo mengumpulkan 31 poin dan berada di peringkat ke-16 klasemen sementara, hanya terpaut satu poin dari Madura United yang berada di zona aman. Meski demikian, manajemen Persis Solo khawatir insiden flare ini akan berujung pada sanksi dari Komdis PSSI, mengingat sebelumnya mereka pernah dijatuhi denda sebesar Rp 250 juta akibat penyalaan flare saat melawan Persita Tangerang pada Januari 2026. "Mudah-mudahan ini tidak berimbas pada sanksi ke kita. Kita tidak berharap kena sanksi," tutup Ginda.