Bursa saham di wilayah Asia Pasifik mencatatkan kenaikan yang signifikan setelah diumumkannya kerangka kesepakatan yang bertujuan mengakhiri konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pada perdagangan pagi hari Senin (15/6/2026), indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak hingga 5,5 persen. Indeks Kospi di Korea Selatan juga mengalami kenaikan hingga 5,7 persen, sementara indeks Taiex di Taiwan menguat sebesar 2,7 persen. Indeks ASX200 di Australia naik sekitar 1,5 persen, dan di Hong Kong, Indeks Hang Seng sempat menguat sekitar 1 persen sebelum mengalami penurunan menjelang siang.
Kontrak berjangka saham di Amerika Serikat yang diperdagangkan di luar jam bursa reguler juga menunjukkan tren positif. Kontrak terkait indeks S&P 500 meningkat sekitar 1 persen, sedangkan kontrak Nasdaq Composite naik sekitar 1,8 persen. Namun, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan utama harga minyak dunia, mengalami penurunan sekitar 4,5 persen, turun menjadi di bawah 83,40 dolar AS per barel.
Reaksi Pasar Terhadap Kesepakatan
Kepala Riset Asia di ANZ, Khoon Goh, menyatakan bahwa pasar sebenarnya sudah menunjukkan respons positif sejak pekan lalu ketika Presiden AS, Donald Trump, mengindikasikan bahwa kesepakatan sudah dekat. “Namun, konfirmasi resmi mengenai kesepakatan tersebut memicu reli lanjutan di pasar,” ungkap Goh. Dia juga menambahkan bahwa penurunan harga minyak akan memberikan ruang bagi bank sentral di berbagai negara yang sebelumnya khawatir terhadap prospek inflasi. “Fokus pasar kini beralih ke Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) yang akan memutuskan suku bunga pada pekan ini,” tambahnya.
Detail Kesepakatan dan Dampaknya
Presiden AS, Donald Trump, pada hari Ahad (14/6/2026), mengumumkan tercapainya sebuah “kesepakatan” dengan Iran melalui unggahan di media sosial. Trump menyatakan bahwa dia telah mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya tambahan serta penghentian segera blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. “Biarkan minyak mengalir,” tulis Trump dalam unggahannya. Selanjutnya, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi bahwa kedua pihak telah menyelesaikan naskah akhir sebuah nota kesepahaman. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang pemerintahannya berperan dalam memediasi kesepakatan tersebut, mengungkapkan bahwa penandatanganan resmi akan dilakukan di Swiss pada hari Jumat mendatang.
Hingga saat ini, rincian resmi mengenai kesepakatan tersebut belum diumumkan. Namun, kantor berita Iran, Mehr, melaporkan bahwa kesepakatan itu mencakup penghentian segera seluruh aksi permusuhan, termasuk di Lebanon, penangguhan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta pencairan aset Iran senilai 24 miliar dolar AS yang selama ini dibekukan. Jika kesepakatan ini berhasil diimplementasikan, maka akan membuka jalan bagi normalisasi pelayaran di Selat Hormuz, yang selama hampir empat bulan terakhir mengalami gangguan akibat ancaman dan serangan dari Iran serta blokade angkatan laut AS.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), gangguan di Selat Hormuz telah menyebabkan pasokan minyak global berkurang sekitar 14 juta barel per hari, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga energi dunia dan memicu kelangkaan bahan bakar di sejumlah negara.