BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 06:09 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Senin, 13 Jul 2026 12:24 WIB

Kenaikan Harga Ayam di Pangandaran Dipicu Kembali Beroperasinya Program MBG

13 Jul 2026, 12:24 WIB 92x dibaca 3 menit baca bandung.kompas.com bandung.kompas.com
T
Taufik Pranata 92x dibaca · 3 menit baca
Kenaikan Harga Ayam di Pangandaran Dipicu Kembali Beroperasinya Program MBG
bandung.kompas.com

PANGANDARAN — Daging ayam di Pasar Padaherang, Kabupaten Pangandaran, mengalami lonjakan harga setelah sempat menurun ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak beroperasi. Para pedagang menyebutkan bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan seiring dengan dimulainya kembali program MBG pada hari pertama sekolah, Senin (13/7/2026).

Dalam pantauan di Pasar Padaherang, aktivitas jual beli daging ayam terlihat sangat ramai sejak pagi hari. Banyak pembeli yang mengantre di lapak para pedagang, sementara para penjual sibuk melayani permintaan. Salah satu pedagang ayam, Karman, menyatakan bahwa harga ayam mulai meningkat seiring dengan beroperasinya kembali beberapa dapur MBG. "Kalau sekarang sudah naik lagi. MBG sudah jalan lagi, otomatis permintaan ayam juga meningkat. Jadi harga ikut naik," ungkap Karman.

Fluktuasi Harga Ayam dan Stok yang Aman

Karman menjelaskan bahwa saat program MBG dihentikan, harga daging ayam sempat turun ke kisaran Rp 23.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Namun, kini harga telah kembali naik menjadi sekitar Rp 34.000 per kilogram. Meskipun harga mengalami kenaikan, ia memastikan bahwa stok ayam di pasaran masih dalam kondisi aman. Namun, tingginya permintaan membuat harga sulit untuk kembali ke level rendah seperti beberapa pekan sebelumnya. Ia juga menambahkan bahwa kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar untuk program MBG berkontribusi pada pengaruh terhadap rantai distribusi ayam di pasar.

Dampak Kenaikan Harga pada Usaha Kuliner

Kenaikan harga ayam juga berdampak pada pelaku usaha kuliner kecil. Indri, seorang pedagang seblak di Padaherang, mengungkapkan bahwa biaya produksi kembali meningkat karena ayam merupakan salah satu bahan topping yang paling diminati oleh pelanggan. "Daging ayam sekarang mahal lagi untuk topping seblak. Jadi biaya belanja juga ikut naik," ujarnya.

Indri menambahkan bahwa ketika harga ayam sempat turun, biaya produksi menjadi lebih ringan sehingga masih bisa mempertahankan keuntungan. Namun, kini ia harus kembali menghitung pengeluaran harian. Meskipun demikian, Indri belum berencana untuk menaikkan harga jual seblaknya karena khawatir jumlah pembeli akan menurun. Ia memilih untuk mengurangi margin keuntungan sambil menunggu perkembangan harga. Indri juga menilai bahwa program MBG berpengaruh terhadap perputaran komoditas ayam di pasaran, di mana kebutuhan ayam meningkat untuk memenuhi program tersebut, sehingga harga di tingkat pedagang ikut terdorong naik. "MBG memang sangat berpengaruh. Bukan hanya ke harga ayam, tapi juga ke daya beli masyarakat, termasuk pembeli seblak," jelasnya.

Harapan Konsumen untuk Stabilitas Harga

Kenaikan harga juga dirasakan oleh Tati, seorang warga yang rutin membeli daging ayam di Pasar Padaherang. Ia mengaku terkejut dengan kenaikan harga ayam yang terjadi dalam waktu singkat. Saat program MBG diliburkan, ia masih membeli ayam seharga Rp 23.000 per kilogram, namun pada Senin (13/7/2026), harga yang harus dibayarnya sudah mencapai Rp 34.000 per kilogram. "Waktu MBG libur saya masih dapat Rp 23 ribu per kilogram. Sekarang beli lagi sudah Rp 34 ribu per kilogram," ungkap Tati.

Menurut Tati, kenaikan harga tersebut cukup memengaruhi pengeluaran rumah tangga karena ayam merupakan salah satu lauk yang paling sering dikonsumsi keluarganya. Ia berharap agar harga kembali stabil sehingga beban belanja masyarakat tidak semakin berat.