BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 07:08 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Rabu, 12 Agt 2026 06:28 WIB

Kenaikan Harga Beras di Sikka Capai Rp 16.000 per Kilogram

12 Agt 2026, 06:28 WIB 48x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
S
Sabrina Aulia Rahma 48x dibaca · 3 menit baca
Beras asal Sulawesi yang dijual di salah satu kios di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka(Kompas.com/Seraphinus Sandi)
Beras asal Sulawesi yang dijual di salah satu kios di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka(Kompas.com/Seraphinus Sandi)

MAUMERE - Dalam beberapa minggu terakhir, harga beras di berbagai pasar di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengalami kenaikan yang cukup mencolok. Di Kota Maumere, harga beras telah mencapai Rp 16.000 per kilogram, meningkat dari harga sebelumnya yang berkisar di Rp 13.000 per kilogram. Lonjakan harga juga terlihat di Kecamatan Magepanda, yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sikka, di mana harga beras kini mencapai Rp 16.000 per kilogram, naik dari Rp 12.500 per kilogram.

Asal Beras dan Penyebab Kenaikan Harga

Ayu, seorang pedagang, menjelaskan bahwa beras yang dijualnya sebagian besar berasal dari luar daerah, seperti Sulawesi. "Memang ada juga beras dari wilayah Kabupaten Sikka, tapi stoknya tidak banyak, kebanyakan dari Makassar yang kami jual sekarang," ungkap Ayu pada Selasa (11/8/2026). Sebelumnya, harga beras relatif stabil di kisaran Rp 12.000 hingga Rp 13.000 per kilogram, terutama saat musim panen. Namun, saat ini, stok beras mulai menipis, sehingga harus didatangkan dari luar daerah. "Kalau didatangkan dari luar kan mana kita biaya angkut ke sini lalu biaya yang lain makanya terjadi kenaikan harga," tambahnya.

Produksi dan Kebutuhan Beras di Sikka

Inosensius Siga, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, produksi gabah dari padi sawah dan padi gogo di wilayah tersebut mencapai 36.307,20 ton. Produksi ini tersebar di berbagai kecamatan dengan luas tanam dan panen yang bervariasi. Di Kecamatan Waiblama, luas tanam mencapai 2.055,25 hektar dengan luas panen 2.001,80 hektar, diikuti oleh Kecamatan Magepanda dengan luas tanam 1.498 hektar dan luas panen 1.650 hektar.

Inosensius menjelaskan bahwa jika total luas panen diakumulasikan dengan kecamatan lainnya, total luas panen untuk tahun 2025 mencapai 9.076,80 hektar, dengan produksi padi yang hanya dapat dikonversi menjadi sekitar 21.105,49 ton beras. Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan setempat, kebutuhan beras di Kabupaten Sikka mencapai 37.000 ton per tahun, yang mengakibatkan defisit beras sekitar 14.000 hingga 15.000 ton per tahun. "Sehingga diperlukan pasokan beras dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan tersebut," jelasnya.

Yovita Yasintha Bolly, dosen Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian dan Perikanan di Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, menyatakan bahwa ada dua faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga beras di Kabupaten Sikka. Pertama, pasokan beras dari luar daerah seperti Pulau Jawa dan Sulawesi mengalami penurunan. Kedua, produksi dari petani lokal belum mampu memenuhi lonjakan permintaan pasar. "Kedua faktor ini berakibat pada kenaikan harga beras," ujarnya.

Yovita menekankan pentingnya kehadiran pemerintah melalui Gerakan Pangan Murah untuk membantu masyarakat. Ia juga mengusulkan agar pemerintah menggalakkan kembali program konsumsi pangan lokal sejak dini, seperti ubi, jagung, dan pangan lainnya, agar masyarakat tidak hanya bergantung pada beras.