BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 05:48 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Sabtu, 13 Jun 2026 06:57 WIB

Kenaikan Harga Kedelai Impor, Perajin Tahu-Tempe di Parepare Terpaksa Mengurangi Karyawan

13 Jun 2026, 06:57 WIB 10x dibaca 2 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
T
Taufik Pranata 10x dibaca · 2 menit baca
Kenaikan Harga Kedelai Impor, Perajin Tahu-Tempe di Parepare Terpaksa Mengurangi Karyawan
regional.kompas.com

PAREPARE, KOMPAS.com - Usaha tahu dan tempe di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, mengalami kesulitan akibat lonjakan harga kedelai impor. Banyak pelaku usaha yang terpaksa mengurangi aktivitas produksi dan merumahkan karyawan untuk menghindari kerugian yang semakin besar. Kenaikan harga ini dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah, yang membuat biaya bahan baku utama, kedelai, meningkat secara signifikan.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak tersebut adalah Yayat, pemilik usaha tahu-tempe di Jalan Petta Unga, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang. Ia memilih untuk menghentikan sementara produksinya karena kondisi pasar yang lesu dan biaya operasional yang terus meningkat. "Oh, tidak ditutup. Cuma sementara diistirahat dulu," ungkap Yayat.

Penurunan Permintaan dan Kenaikan Biaya

Yayat juga menjelaskan bahwa penurunan permintaan dari konsumen menjadi salah satu faktor utama yang menghambat produksinya. Di tengah situasi ini, harga kedelai sebagai bahan baku utama juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. "Karena pasarannya agak menurun, kemudian harga kedelai naik sekali. Dari Rp 10.500 per kilo jadi Rp 11.500 per kilo," tambahnya.

Dengan kondisi tersebut, Yayat harus mempertimbangkan berbagai opsi. Kenaikan biaya produksi berpotensi menekan keuntungan, sementara menaikkan harga jual bisa mengurangi jumlah pembeli. "Sekarang kan mau dinaikkan, tapi masih dipikir-pikir dulu ini. Dinaikkan atau dikurangi isinya ini. Karena kalau dinaikkan, biasa konsumen kurang ini ya. Takutnya enggak laku," keluhnya. Untuk saat ini, ia memilih untuk menghentikan produksi selama beberapa hari sambil memantau perkembangan harga dan kondisi pasar.

Kondisi Serupa Dialami Pelaku Usaha Lain

Kesulitan yang sama juga dialami oleh Nandang Permadi, pemilik usaha tahu-tempe di Jalan Sumur Jodoh, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, Parepare. Kenaikan biaya produksi memaksanya untuk mengurangi jumlah tenaga kerja. Beberapa pekerja terpaksa dirumahkan agar usaha tetap dapat bertahan. Nandang kini harus terlibat langsung dalam proses produksi yang sebelumnya dikerjakan oleh karyawan. "Dulu kan delapan (karyawan), sekarang cuma pakai tiga sekarang. Begitulah, kondisi sekarang," ujarnya.

Selain mengurangi tenaga kerja, Nandang juga menerapkan pembatasan dalam produksi harian. Kebijakan ini diambil untuk menyesuaikan jumlah barang yang diproduksi dengan permintaan pasar yang sedang menurun. "Iya, selang-seling. Kadang bikin ini hari banyak, dikurangi lagi. Dibatasi sekarang," jelasnya.

Dengan situasi yang semakin sulit, para pelaku usaha tahu-tempe di Parepare harus beradaptasi agar tetap dapat bertahan di tengah tekanan biaya yang meningkat dan permintaan yang menurun.