KEBUMEN — Kerusakan pada Jembatan Sirnoboyo yang menghubungkan Kecamatan Bonorowo dan Kecamatan Mirit di Kabupaten Kebumen semakin parah. Jembatan ini mengalami kelengkungan pada strukturnya dan sambungan-sambungannya mulai patah, yang disebabkan oleh penurunan fondasi yang terjadi secara bertahap selama beberapa tahun terakhir.
Kepala Desa Sirnoboyo, Sudirman, mengungkapkan bahwa kerusakan ini telah dilaporkan berkali-kali kepada pemerintah daerah, termasuk laporan langsung kepada Bupati Kebumen sejak tahun 2022. “Kondisi jembatan sudah dilaporkan berkali-kali. Tahun 2022 sudah dilaporkan ke bupati,” jelas Sudirman pada Rabu (5/8/2026).
Penyebab Kerusakan Jembatan
Menurut Sudirman, penyebab utama dari kerusakan ini adalah penurunan fondasi jembatan yang membuat badan jembatan tidak lagi berada pada posisi yang seharusnya. Akibatnya, permukaan jembatan terlihat bergelombang dan sambungan antar bagian mengalami keretakan hingga patah. “Karena ada penurunan fondasi sehingga jembatan dalam kondisi melengkung seperti itu. Sambungan jembatan juga patah-patah. Ada yang sudah turun lumayan, ada yang masih stabil, kemudian turun lagi,” tambahnya.
Gejala kerusakan jembatan mulai terlihat sejak tahun 2020 hingga 2021, ketika kondisi jembatan hanya terasa goyang saat dilintasi kendaraan. Namun, seiring waktu, kerusakan semakin parah dan kini terlihat jelas pada struktur jembatan. “Waktu saya menjabat awal, langsung disuguhi jembatan goyang. Sekarang semakin parah,” ungkap Sudirman.
Peran Penting Jembatan Sirnoboyo
Jembatan ini memiliki peran yang sangat penting sebagai penghubung utama antara Kecamatan Bonorowo dan Mirit. Selain menghubungkan dua wilayah administratif, jalur ini juga merupakan akses utama bagi masyarakat menuju pusat aktivitas ekonomi dan pelayanan publik di Kebumen bagian selatan. Sudirman menjelaskan bahwa banyak warga yang memanfaatkan jalur tersebut untuk beraktivitas sehari-hari. Setelah akses jalan terhubung dengan wilayah Ambal, arus kendaraan yang melintas semakin meningkat. “Itu merupakan urat nadi transportasi Kecamatan Mirit dan Bonorowo sekaligus urat nadi perekonomian masyarakat,” jelasnya.
Kondisi jembatan menjadi semakin krusial ketika jalur lain mengalami gangguan. Sudirman memberikan contoh ketika pengecoran jalan dilakukan di Desa Mrentul, di mana sebagian besar kendaraan yang menuju Kota Kebumen dialihkan melalui Jembatan Sirnoboyo. “Waktu ada pengecoran jalan di daerah Desa Mrentul, semua jalur alternatif menuju Kota Kebumen lewat sini semua,” ujarnya. Peningkatan beban lalu lintas ini diduga mempercepat penurunan kondisi struktur jembatan yang sebelumnya sudah mengalami masalah pada fondasinya.
Warga kini merasa khawatir jika kerusakan ini terus berlanjut dan dapat membahayakan pengguna jalan, terutama kendaraan bermuatan berat yang masih melintas setiap hari. Mereka berharap pemerintah daerah segera melakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh dan mengambil langkah penanganan yang permanen. Sudirman menekankan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan perbaikan sementara, tetapi penanganan yang dapat mengembalikan fungsi jembatan sebagai jalur penghubung utama antar kecamatan. “Harapannya semoga cepat diperbaiki, karena jalan ini sangat penting bagi aktivitas masyarakat dan perekonomian warga,” tutupnya.
Salah satu warga, Yanti, juga berharap agar selain perbaikan jembatan, pihak berwenang dapat memperlebar jembatan agar akses bagi warga menjadi lebih mudah. "Ya kalau diperbaiki bisa diperlebar juga jembatannya biar lebih luas dan nyaman dilewati warga," ungkapnya.