BAUBAU, KOMPAS.com – "Kami sudah tidak punya harapan lagi. Hanya pasrah," ungkap Dahlan, seorang nelayan yang selamat setelah kapal yang ditumpanginya tenggelam di perairan antara Pasarwajo dan Batu Atas, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, pada Minggu (5/7/2026). Selama lebih dari satu jam, Dahlan bersama dua rekannya terpaksa bertahan di rakit darurat yang mereka buat dari sisa-sisa material kapal yang hancur. Di tengah lautan yang ganas, mereka menghadapi ombak besar dan angin kencang, sambil berharap ada kapal lain yang bisa melihat mereka.
Setelah kapal tenggelam, mereka berusaha bertahan di rakit seadanya. "Saat itu kami sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Kami hanya bisa pasrah sambil berdoa semoga ada yang menemukan kami," kata Dahlan.
Awal Mula Kejadian
Peristiwa yang menegangkan ini dimulai ketika Kapal Adi Jaya GT 1 berangkat dari perairan Flores menuju Baubau pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 08.00 Wita. Ketiga nelayan tersebut baru saja menyelesaikan aktivitas penangkapan ikan tuna selama seminggu dan berniat kembali ke Baubau. Namun, perjalanan pulang mereka berubah menjadi bencana ketika cuaca di laut tiba-tiba memburuk secara drastis saat kapal berada sekitar 30 mil dari daratan Baubau. Gelombang tinggi menghantam kapal, menyebabkan salah satu papan lambung terbuka.
"Kami sebenarnya sudah melihat daratan. Tinggal sedikit lagi sampai. Tapi gelombang datang terus menghantam kapal. Akhirnya papan kapal terbuka, air masuk sangat cepat dan kapal mulai tenggelam," jelas Dahlan. Meskipun seluruh awak kapal berusaha keras menyelamatkan kapal dengan menggunakan dua alat pompa untuk mengeluarkan air, derasnya air yang masuk membuat mereka tidak mampu mempertahankan kapal.
Usaha Bertahan Hidup
Di tengah kepanikan, ketiga nelayan itu berinisiatif merakit alat apung dari material kayu yang berhasil mereka selamatkan sebelum kapal karam. "Kami langsung berpikir bagaimana caranya tetap hidup. Apa yang masih bisa mengapung kami kumpulkan lalu kami jadikan rakit. Yang penting jangan sampai tenggelam bersama kapal," ungkap Dahlan. Rakit sederhana tersebut menjadi harapan terakhir mereka untuk bertahan hidup.
Di atas rakit, mereka hanya bisa menunggu tanpa makanan atau minuman, saling menguatkan satu sama lain. "Yang ada di pikiran kami waktu itu hanya keluarga di rumah," tambahnya. Sebelum kapal sepenuhnya tenggelam sekitar pukul 05.22 Wita, mereka sempat menghubungi keluarga, yang menjadi komunikasi terakhir sebelum sinyal terputus.
Setelah menerima laporan darurat, tim SAR gabungan segera melakukan pencarian di sekitar perairan tersebut. Operasi pencarian berlangsung menegangkan hingga sekitar pukul 15.40 Wita, tim SAR berhasil menemukan rakit kecil terapung sekitar 10,5 mil laut dari lokasi awal kapal tenggelam. Di atas rakit, ketiga nelayan ditemukan dalam kondisi lemas namun masih hidup.
Nakhoda Kapal SAR, Lukman, menyatakan bahwa momen penemuan para korban menjadi kabar yang paling ditunggu oleh tim pencari. "Alhamdulillah korban ketiga berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Saat ditemukan mereka masih bertahan di atas rakit darurat yang mereka buat sendiri. Setelah itu seluruh korban langsung kami evakuasi menggunakan RB 210 menuju Pelabuhan Murhum Baubau," ujarnya.
Setelah proses evakuasi, ketiga nelayan tiba di Pelabuhan Murhum Baubau sekitar pukul 19.05 Wita dan disambut tangisan haru dari keluarga yang sudah menunggu dengan cemas. Dengan ditemukannya seluruh korban dalam keadaan selamat, operasi SAR dinyatakan selesai. Bagi Dahlan, keselamatan yang ia rasakan adalah sebuah mukjizat dan kesempatan kedua dalam hidupnya. "Saya sangat berterima kasih kepada Tim Basarnas sehingga kami bisa selamat," tuturnya.