DENPASAR – Kasus penipuan yang berkaitan dengan lowongan kerja palsu di Bali kembali menelan korban. Yubilate Kristian Bulu, yang akrab disapa Krisno, seorang pemuda berusia 23 tahun asal Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami penyekapan dan penganiayaan berat oleh sindikat kejahatan. Kejadian tragis ini berlangsung selama enam hari, dari 4 hingga 9 Mei 2026, di kawasan Seminyak dan Kedonganan, Badung, Bali. Krisno baru berani menceritakan detail kejadian tersebut saat ditemui di rumahnya pada Rabu (10/6/2026).
Awal Mula Terjebak dalam Lowongan Kerja Palsu
Krisno merantau ke Denpasar pada 1 Mei 2026 dengan harapan mencari pekerjaan setelah menyelesaikan kontrak magang selama setahun di Jepang. Tiga hari setelah tiba dan tinggal di kos sepupunya, ia menemukan lowongan kerja di bidang pariwisata yang diposting di aplikasi kencan Tinder. Tergoda oleh informasi tersebut, Krisno segera mengirimkan lamaran dan diminta untuk hadir dalam sesi wawancara di Hotel Liberta Seminyak pada 4 Mei 2026, yang diantar oleh sepupunya menggunakan sepeda motor.
Modus Penipuan dalam Wawancara Kerja
Sesampainya di hotel, Krisno bertemu dengan dua wanita yang diduga merupakan pemimpin sindikat, yaitu Adrisryanti Tanah Paluang alias Kenso dan Ayasha Amanda Amira Putri alias Amanda. Dalam wawancara, Krisno juga melihat seorang pelamar lain bernama Yohanes, yang kemudian ia ketahui merupakan bagian dari komplotan penipuan. "Saya dinyatakan diterima, sedangkan Yohanes tidak diterima. Belakangan saya mengetahui bahwa Yohanes merupakan bagian dari kelompok tersebut. Mereka hanya berpura-pura untuk mengelabui saya," jelas Krisno. Kenso menawarkan posisi sebagai asisten pribadi dengan janji proyek pariwisata bernilai ratusan juta rupiah.
Percaya kepada Pelaku yang Manipulatif
Krisno mengaku terjebak dan sepenuhnya percaya kepada pelaku karena profil Kenso yang meyakinkan. Selain fasih berbahasa Inggris, Kenso juga sering menyebut nama Tuhan untuk meyakinkan Krisno dan ibunya bahwa mereka adalah pengusaha yang jujur. "Saat wawancara, dia fasih berbahasa Inggris dan meyakinkan saya bahwa kami sama-sama orang Kristen yang harus percaya kepada Tuhan. Dia mengatakan bahwa orang baik pasti diberi jalan oleh Tuhan," ungkap Krisno.
Penyekapan dan Pemerasan
Setelah wawancara berakhir, penyekapan dimulai. Ponsel Krisno disita, dan ia mulai diintimidasi dengan berbagai tuduhan palsu, termasuk mencuri uang Kenso dan merusak mobil. Tuduhan tersebut digunakan untuk memeras keluarganya. Pada 5 Mei 2026, pelaku memaksa Krisno meminta uang Rp 4 juta kepada ibunya dengan alasan biaya jahit seragam hotel, sementara mereka menggunakan ponsel Krisno untuk berkomunikasi dengan ibunya seolah-olah Krisno dalam keadaan baik.
Penyiksaan Brutal dan Ancaman
Puncak penyiksaan terjadi pada 8 hingga 9 Mei 2026, ketika Krisno dipindahkan dari Hotel Liberta Seminyak ke Hotel Liberta Kedonganan. Di bawah pengawasan dua bodyguard, Krisno dipukuli selama satu jam dalam perjalanan. Di dalam kamar hotel baru, Krisno dikeroyok oleh lima pelaku, yang mengakibatkan luka parah di wajah dan tubuhnya. Para pelaku bahkan memaksa Krisno untuk menjilat darahnya sendiri dan mengancam akan memotong jari tangannya serta membunuhnya jika keluarganya tidak membayar tebusan sebesar Rp 100 juta. "Saya pasrah. Jika memang harus pergi dengan cara seperti ini, saya hanya meminta agar jenazah saya dikembalikan ke Sumba Barat Daya," katanya.
Melarikan Diri dari Penyiksaan
Pada malam 9 Mei 2026, ketika para pelaku mengadakan pesta minuman keras, Krisno memanfaatkan kelengahan mereka. Meskipun dipaksa minum alkohol, ia tetap sadar dan memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri tanpa mengenakan baju, hanya dengan celana panjang. Setelah berhasil keluar dari hotel, Krisno meminjam ponsel di warung terdekat untuk menghubungi ibunya dan berlindung di rumah kos warga NTT sebelum akhirnya dijemput keluarganya untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kuta.
Seruan Keadilan dari Ibu Korban
Setelah melaporkan kasus ini, penanganan oleh pihak kepolisian terkesan lambat. Ketika polisi datang ke lokasi kejadian, para pelaku sudah melarikan diri. Kekecewaan ini membuat ibunda Krisno, Adriana Miku Mere, mengajukan permohonan terbuka kepada Presiden dan Kapolri agar segera menindaklanjuti kasus ini. "Perbuatan para pelaku yang menyekap dan menyiksa anak saya seperti binatang tidak boleh dibiarkan berkeliaran. Tindakan tegas harus diambil demi mencegah agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali kepada masyarakat lainnya," tegas Adriana dengan penuh emosi.