BANYUWANGI - Di tengah fenomena orangtua yang lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di kota, SDN 2 Gumuk yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kini hanya memiliki 27 siswa. Sekolah ini berada di kawasan pegunungan Desa Jelun, Kecamatan Licin, dan melayani anak-anak dari Dusun Kampung Anyar dan Dusun Ledok. Meskipun lokasinya dekat dengan permukiman, jumlah pendaftar di sekolah ini terus menurun.
Kepala SDN 2 Gumuk, Roliyah, menjelaskan bahwa perubahan preferensi orangtua dalam memilih sekolah sangat mempengaruhi jumlah siswa. Ia menyatakan, "Gengsi orang tua untuk menyekolahkan anak ke kota makin tinggi. Padahal jarak dari pemukiman warga ke sekolah ini sebenarnya sangat dekat, hanya sekitar 1 kilometer."
Lokasi dan Tantangan Sekolah
Secara geografis, SDN 2 Gumuk terletak di tengah pegunungan dengan akses yang cukup menantang. Meskipun perjalanan menuju sekolah ini dari Banyuwangi melintasi hamparan persawahan dan area perkebunan, posisi sekolah yang strategis tidak menjamin banyaknya pendaftar. Saat ini, sekolah ini memiliki 27 siswa yang dibimbing oleh delapan tenaga pendidik. Jumlah siswa di setiap kelas pun tergolong sedikit; kelas 1 hanya memiliki empat siswa, sementara kelas 5 hanya diisi oleh tiga siswa, dan kelas 6 memiliki jumlah terbanyak dengan enam siswa.
Kondisi ini memberikan keuntungan sekaligus tantangan bagi sekolah. Dengan jumlah siswa yang sedikit, guru dapat memberikan perhatian lebih kepada setiap siswa selama proses belajar. Namun, hal ini juga berdampak pada anggaran operasional sekolah. Alokasi Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), yang sebelumnya dikenal sebagai Dana BOS, berkaitan langsung dengan jumlah siswa. Dengan jumlah siswa yang terbatas, ruang fiskal untuk membiayai berbagai kegiatan di sekolah pun menjadi terbatas.
Inisiatif Guru untuk Meningkatkan Motivasi Siswa
Kendati mengalami keterbatasan anggaran, para guru di SDN 2 Gumuk tidak berhenti untuk memberikan apresiasi kepada siswa. Mereka memutuskan untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk patungan membeli perlengkapan sekolah, alat tulis, dan makanan ringan. Hadiah-hadiah sederhana ini diberikan pada momen-momen tertentu sebagai bentuk penghargaan dan untuk menjaga semangat belajar siswa.
Roliyah menambahkan, "Karena dana BOS kecil, dampaknya langsung terasa ke kegiatan anak-anak. Supaya mereka tetap senang dan termotivasi untuk datang belajar, guru-guru akhirnya patungan sendiri untuk beli peralatan sekolah dan hadiah." Upaya ini mendapatkan respons positif dari siswa-siswa. Farel dan Haikal, siswa kelas 1 yang tinggal dekat dengan sekolah, mengungkapkan kebahagiaan mereka bersekolah di SDN 2 Gumuk.
Dengan senyuman, Haikal menyatakan, "Senang, (gurunya) baik hati." Inisiatif ini menunjukkan bagaimana meskipun dalam kondisi sulit, semangat untuk mendidik dan memperhatikan siswa tetap menjadi prioritas bagi para guru di SDN 2 Gumuk.