Di Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, warga menghadapi masalah serius terkait kekeringan yang membuat mereka harus menggunakan air sumur berwarna kuning dan berminyak setiap kali musim kemarau tiba. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci.
"Sedikit berpasir, yang kuning itu endapan airnya, berminyak dan berbau karat," ungkap Nurikhfah, seorang warga berusia 35 tahun, pada hari Senin (20/7/2026). Ia menjelaskan bahwa banyak rumah di daerah tersebut bergantung pada dua sumur bor, sementara beberapa warga bahkan menggali tanah hingga kedalaman 50 meter untuk mendapatkan air bersih. Namun, saat kemarau, pasokan air dari sumur semakin menipis. "Di sini warga rata-rata dua sumur bor dipakai. Tapi kalau kemarau berkurang, dan sering keluar warna kuning. Ada juga yang dipancing baru bisa dipakai airnya," tambahnya.
Kondisi Air di Rumah Nurikhfah
Di rumah Nurikhfah, dari dua sumur yang ada, satu sumur masih dapat mengeluarkan air jernih meskipun alirannya tidak deras. Air tersebut digunakan untuk memasak, sementara air yang keruh dipakai untuk mandi dan mencuci. "Selama musim kemarau ada satu untuk masak, walaupun airnya kurang tapi masih jernih, yang satu untuk cuci piring tapi harus disarung karena warna kuning," jelasnya.
Pembelian Air Galon oleh Warga
Hal serupa juga dialami oleh Ani, seorang ibu rumah tangga berusia 40 tahun, yang mengeluh harus membeli air dalam jumlah banyak agar dapat digunakan untuk memasak dan minum keluarganya. Ani, seperti banyak warga lainnya, juga menggunakan dua sumur bor. Namun, satu sumur tidak lagi mengeluarkan air, sementara yang lainnya mengeluarkan air berwarna kuning. "Yang di luar dipakai mandi. Jadi kita tunggu naik di tandong, harus diisi malam supaya besok pagi tidak kuning," tuturnya.
Selama dua bulan terakhir, Ani merasakan dampak kekeringan ini dan berharap hujan segera turun agar air dari sumur yang kering bisa kembali mengalir. "Kalau hujan Alhamdulillah tapi menunggu lagi musim hujan. Sudah dua bulan mi kalau saya kekeringan," katanya.
Menurut Ani, sebelumnya warga sempat menggunakan air PAM dan air tanah, tetapi seiring waktu, pasokan air PAM yang diharapkan saat kemarau tidak lagi tersedia. "Tidak ada air PAM, pernah dulu ada tapi lama-lama tidak ada airnya, jadi diputus karena untuk apa dibayar baru tidak ada air masuk," keluhnya.
Suhardi, seorang warga berusia 50 tahun, menambahkan bahwa banyak warga yang menggali sumur bor hingga kedalaman 50 meter untuk mendapatkan air. "Dua kali kami bor, 16 meter di sini kuning juga. Yang di dalam rumah bagus tapi kurang," ujarnya.
Warga berharap agar pasokan air dapat kembali normal saat musim hujan tiba. "Rata-rata kita begitu, karena kan ini rumah ada sumurnya memang, tapi berjalan waktu banyak orang bor. Nanti hujan bulan 1 baru lagi ada air," tutup Suhardi.