BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 02:41 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Selasa, 30 Jun 2026 11:18 WIB

Kuota Jalur Prestasi dan Afirmasi di Tujuh SMPN Solo Tidak Terpenuhi, Ini Penyebabnya

30 Jun 2026, 11:18 WIB 26x dibaca 2 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
D
Doni Setiawan 26x dibaca · 2 menit baca
Kuota Jalur Prestasi dan Afirmasi di Tujuh SMPN Solo Tidak Terpenuhi, Ini Penyebabnya
regional.kompas.com

SOLO, KOMPAS.com - Dalam sistem penerimaan murid baru (SPMB) 2026, tujuh sekolah menengah pertama negeri (SMPN) di Kota Solo, Jawa Tengah, tidak berhasil memenuhi kuota untuk jalur prestasi dan afirmasi. Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Solo, Abi Satoto, mengungkapkan bahwa SMPN yang mengalami hal ini adalah SMPN 17, SMPN 20, SMPN 21, SMPN 22, SMPN 23, SMPN 26, dan SMPN 27.

Alasan Ketidakpenuhan Kuota

Abi menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama tidak terpenuhinya kuota jalur prestasi dan afirmasi di tujuh SMPN tersebut adalah persepsi masyarakat yang menganggap ada sekolah-sekolah lain yang lebih baik. "Masyarakat itu kan masih mempersepsikan ada sekolah-sekolah yang menurut dia baik ya, kan. Lah, sedangkan kami menyiapkan semua sekolah itu ya sarana prasarananya, ya SDM-nya, ya prosesnya kita sebaik mungkin," tuturnya saat memberikan informasi mengenai SPMB 2026 di Balai Kota Solo pada Senin (29/6/2026).

Dia menambahkan bahwa saat ini belum dapat dikategorikan bahwa tujuh SMP tersebut mengalami kekurangan murid baru. "Kita belum tahu ya, belum bisa menyatakan itu kurang atau belum untuk tahun ini. Karena kita tahu kemarin di SMP 24, 25 kan sudah enggak menerima jalur lain ya, hanya jalur khusus saja ya. Sehingga itu ada 150 (siswa), 75-75 di dua sekolah itu, sehingga yang lain kan mesti ke sekolahan yang lain," jelas Abi.

Kuota Ideal dan Tantangan yang Dihadapi

Abi juga menyampaikan bahwa idealnya, kuota untuk jalur prestasi dan afirmasi seharusnya mencapai 25 persen dari total daya tampung masing-masing sekolah. Namun, daya tampung tersebut bervariasi antar SMP. "Idealnya kan sesuai dengan kuotanya. Jadi kalau jalur prestasi dan afirmasi kan 25 persen - 25 persen dari daya tampungnya. Padahal daya tampung itu masing-masing beda," katanya.

Lebih lanjut, Abi mengungkapkan bahwa ketidakpenuhan kuota juga disebabkan oleh jumlah penduduk di sekitar yang relatif sedikit serta jarak antar sekolah yang dekat. "Karena itu kan penduduk yang sekitar situ sedikit. Yang ke timur sudah SMP 15, yang utara SMP 1, yang selatan ada SMP 9, ada SMP 19 gitu kan. Yang situ area pusat kota semua, kantor-kantor. Iya, itu seperti itu. SMP 26 ini juga timurnya ada SMP 14, utara SMP 4, selatannya SMP 13 ya kan. Lah sementara persepsi masyarakat juga 'oh lebih baik di situ' maka pilih yang itu kan," tutup Abi.