Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak orang percaya bahwa ASI yang berwarna kuning lebih bermanfaat bagi kesehatan bayi dibandingkan dengan yang berwarna putih. Apa yang menyebabkan ASI dapat memiliki warna kuning? Dokter memberikan penjelasan mengenai hal ini.
Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa warna ASI dapat berubah secara alami. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kandungan beta karoten dari makanan tertentu, seperti wortel dan labu, yang dapat memberikan warna kekuningan pada ASI.
Perubahan Warna ASI dan Kolostrum
“Yang secara ilmiah membuat kuning itu beta karoten yang tinggi,” ungkap Naomi saat berbicara dengan CNNIndonesia.com pada Rabu (13/5). Dokter spesialis anak ini menambahkan bahwa ASI yang biasanya tampak lebih kuning dan kental adalah kolostrum, yaitu ASI pertama yang keluar dalam tiga hingga lima hari setelah melahirkan.
Kolostrum kaya akan imunoglobulin, yang merupakan zat kekebalan tubuh dalam jumlah tinggi. Setelah fase kolostrum, ASI akan bertransisi menjadi ASI transisi dan kemudian menjadi ASI matang yang umumnya berwarna lebih putih dan encer.
Selama sesi menyusui, ASI juga dapat mengalami perubahan. ASI awal atau foremilk biasanya lebih encer, sedangkan ASI akhir atau hindmilk cenderung lebih kental karena kandungan lemaknya yang lebih tinggi. “ASI itu dinamis. Komposisinya berubah inter dan intra individual,” jelasnya.
Pentingnya Nutrisi dan Kesehatan Ibu
Naomi menekankan bahwa komposisi ASI dapat berbeda antara satu ibu dengan ibu lainnya. Bahkan pada ibu yang sama, kandungan ASI dapat bervariasi antara pagi, siang, dan malam sesuai dengan kebutuhan bayi. Ia juga menjelaskan bahwa ASI tidak hanya mengandung nutrisi tetapi juga berbagai zat bioaktif seperti lactoferrin, human milk oligosaccharide (HMO), probiotik, dan hormon pertumbuhan yang mendukung daya tahan tubuh serta perkembangan bayi.
Namun, anggapan bahwa ASI berwarna kuning lebih sehat membuat beberapa ibu berusaha agar ASI mereka berwarna kuning. Ketika ASI tidak berwarna kuning, seringkali muncul kekhawatiran bahwa bayi tidak mendapatkan nutrisi yang optimal.
Akan tetapi, Naomi menegaskan bahwa warna ASI bukanlah indikator utama kualitasnya. “Yang dicari bukan warna kuningnya, tetapi nutrisinya,” ujarnya. Ibu disarankan untuk menjaga pola makan yang bergizi seimbang, cukup istirahat, minum cukup cairan, dan menjaga kondisi mental yang baik selama menyusui.
Naomi juga menambahkan bahwa stres dapat memengaruhi produksi ASI, karena hormon stres dapat menekan hormon prolaktin yang berperan dalam pembentukan ASI. “Kalau stres, hormon stres menekan hormon prolaktin. Jadi hormon ASI-nya ketekan,” katanya.
Ia menekankan bahwa ASI yang diproduksi oleh ibu sudah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bayi. Oleh karena itu, fokus utama bukanlah mengejar warna kuning, melainkan memastikan ibu tetap sehat dan proses menyusui berjalan dengan baik.