BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 06:09 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Jumat, 10 Jul 2026 00:07 WIB

Mengapa Kerja Keras Tidak Selalu Menjamin Produktivitas yang Optimal?

10 Jul 2026, 00:07 WIB 89x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
R
Rizky Ananta 89x dibaca · 3 menit baca
Mengapa Kerja Keras Tidak Selalu Menjamin Produktivitas yang Optimal?
regional.kompas.com

Kualitas produktivitas kerja tidak dapat diukur hanya dari hasil angka dan target yang dicapai. Agus Dwi Handaya, seorang praktisi human capital, mengungkapkan bahwa faktor manusia menjadi penentu utama dalam keberlanjutan produktivitas, terutama di tengah meningkatnya tekanan kerja yang dapat menyebabkan kelelahan (burnout) dan menurunnya kesejahteraan psikologis pekerja. Agus menekankan bahwa organisasi perlu mengubah cara pandang mereka terhadap produktivitas, karena hasil kerja yang tinggi tidak akan bertahan jika aspek pengembangan manusia diabaikan.

“Bila kita salah membaca manusia, kita hampir pasti salah mengelola produktivitas. Produktivitas sejati tidak hanya dibangun dari target, sistem, atau kemampuan teknis, tetapi dari manusia yang terus berkembang melalui pengetahuan, keterampilan, karakter, motivasi, keyakinan, lingkungan, dan kepemimpinan yang tepat,” jelas Agus dalam rilisnya.

Manusia sebagai Fondasi Produktivitas

Dalam bukunya yang berjudul PeopleMath, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Agus menekankan pendekatan yang menjadikan manusia sebagai dasar utama dalam produktivitas. Dalam PeopleMath, Agus menggunakan logika persamaan matematika untuk menggambarkan berbagai faktor yang mempengaruhi kualitas manusia. Dia menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak bertujuan untuk menyederhanakan manusia menjadi angka, tetapi untuk memahami keterkaitan antara berbagai faktor yang membentuk produktivitas.

Agus menyatakan bahwa pengetahuan dan keterampilan adalah fondasi utama, namun keduanya harus didukung oleh karakter, motivasi, keyakinan, pengalaman, sistem, kepemimpinan, teknologi, dan lingkungan kerja. “PeopleMath bukan tentang mematematikakan manusia ke dalam rumus atau angka. Justru melalui logika persamaan, kita dapat melihat manusia secara lebih utuh, memahami apa yang membentuk seseorang untuk bertumbuh, apa yang membuat sebuah tim mampu bergerak bersama, dan apa yang membuat organisasi dapat membangun produktivitas secara berkelanjutan,” tambahnya.

Pengalaman sebagai Dasar Pemikiran

Agus menjelaskan bahwa gagasan dalam PeopleMath muncul dari pengalaman hampir tiga dekade di bidang pengembangan sumber daya manusia. Ia menekankan bahwa konsep ini dipengaruhi oleh dua pengalaman penting, yaitu masa remajanya di Medan dan perjalanan profesionalnya dalam mengelola transformasi organisasi di beberapa bank, termasuk Danantara. “Yang membedakan PeopleMath adalah gagasan ini tidak hanya lahir dari teori manajemen atau konsep akademik, tetapi dari dua 'laboratorium' kehidupan yang saya alami secara langsung,” ujarnya.

Dari pengalamannya, Agus menyimpulkan bahwa manusia dapat berkembang dengan dukungan lingkungan, kepemimpinan, disiplin, sistem, dan keyakinan yang saling mendukung.

Selain membahas produktivitas, Agus juga memperkenalkan konsep kepemimpinan 3N, yaitu Nagih, Nata, dan Nuntun. Nagih menekankan pentingnya menetapkan standar dan target kerja, Nata berhubungan dengan penyusunan arah serta sistem kerja yang jelas, sedangkan Nuntun menggambarkan peran pemimpin dalam membimbing anggota tim agar terus berkembang.

Agus menambahkan bahwa proses pembelajaran dan pengembangan karakter individu juga penting, yang dia sebut sebagai Nyerap, Ngulang, dan Ngerefleksi. “Produktivitas bukan sesuatu yang muncul begitu saja di akhir proses kerja, melainkan hasil dari proses panjang dalam membentuk dan mengembangkan manusia,” tutupnya.