BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 06:09 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Kamis, 23 Jul 2026 13:14 WIB

Minuman Pasca Olahraga: Air Putih atau Isotonik yang Lebih Baik?

23 Jul 2026, 13:14 WIB 100x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
G
Galih Lingga Pradipta 100x dibaca · 3 menit baca
Talkshow di Wellnest Festival Vol.2 membahas soal asupan cairan setelah olahraga. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)
Talkshow di Wellnest Festival Vol.2 membahas soal asupan cairan setelah olahraga. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)

Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak individu yang langsung mencari air putih setelah berolahraga untuk menghilangkan rasa haus. Namun, penting untuk mempertimbangkan apakah air putih saja sudah memadai untuk memulihkan tubuh setelah kehilangan banyak cairan.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Brawijaya Hospital, Jessica Marsigit, menjelaskan bahwa kebutuhan cairan pasca-olahraga sangat tergantung pada seberapa intensif aktivitas yang dilakukan. Jika keringat yang hilang cukup banyak, air putih mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Persiapan Hidrasi Sebelum Olahraga

"Kalau kita mau lari atau olahraga, sebetulnya hidrasi itu harus dimulai minimal dua sampai tiga hari sebelumnya. Hidrasi, nutrisi, dan tidur harus cukup, jadi bukan fokus hanya di hari H," ujar Jessica dalam sebuah talkshow di CNN Indonesia Wellnest Festival Vol. 2 yang berlangsung di South Quarter Dome, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Rabu (22/7).

Menurutnya, saat berolahraga, tubuh tidak hanya kehilangan air, tetapi juga elektrolit yang dikeluarkan bersama keringat. "Keringat itu, kan, sebetulnya air bercampur garam. Makanya yang disarankan minumnya isotonik, karena bukan hanya mengandung air, tapi juga elektrolit seperti natrium dan magnesium," jelasnya.

Risiko Dehidrasi dan Pentingnya Elektrolit

Jessica juga menekankan bahwa elektrolit memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh serta mendukung fungsi otot selama dan setelah aktivitas fisik. Jika kehilangan elektrolit tidak segera diatasi, risiko kram dan kelelahan dapat meningkat.

Untuk olahraga ketahanan seperti lari jarak jauh, Jessica menyebutkan bahwa beberapa atlet menerapkan strategi hidrasi bertahap. "Misalnya setiap 2 kilometer minum air putih, lalu setiap 5 kilometer minum isotonik atau energy gel. Itu salah satu strategi yang banyak digunakan," ujarnya.

Dehidrasi merupakan salah satu kondisi yang paling berbahaya saat berolahraga. Brian Bildt, Founder Primafit dan life coach, mengungkapkan, "Saya merasa pola hidup saya sudah cukup baik dan rajin olahraga. Tapi waktu cek darah, dokter bilang darah saya kental karena kurang minum dan kurang mengganti elektrolit." Dia menambahkan bahwa banyak orang yang aktif berolahraga tetapi seringkali lupa untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit setelah berkeringat.

"Yang berbahaya dalam dunia olahraga adalah dehidrasi. Kalau hanya minum air putih, maaf, tidak cukup. Harus dibantu elektrolit yang mengandung magnesium, potassium, dan sodium," jelasnya.

Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Namun, saat tubuh kehilangan banyak keringat akibat aktivitas fisik yang intens, minuman isotonik dapat membantu menggantikan elektrolit yang hilang. "Mungkin air putih cukup untuk menghilangkan haus. Tapi untuk mengganti elektrolit yang hilang karena keringat, kebutuhannya berbeda," ujar Satrio Legowo, Head of Marketing Operations Coca-Cola Europacific Partners Indonesia.

Dia menambahkan bahwa aktivitas ringan seperti berjalan kaki atau mobilitas harian mungkin hanya membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit dalam jumlah yang lebih sedikit. Sementara itu, olahraga dengan intensitas tinggi memerlukan asupan elektrolit yang lebih besar untuk menjaga performa dan pemulihan tubuh.

Menjaga kecukupan cairan setiap hari, tidur yang cukup, serta asupan nutrisi yang seimbang tetap menjadi fondasi utama agar tubuh siap menghadapi aktivitas fisik.