PEKANBARU - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau mengungkapkan bahwa mereka masih dalam proses penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku pemukulan terhadap mahasiswa yang bernama Muhammad Luthfi. Insiden tersebut terjadi saat aksi demonstrasi di kantor DPRD Riau di Pekanbaru. Akibat pukulan yang keras, korban mengalami luka serius di bagian kepala.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Hasyim Risahondua, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban mengalami retak di bagian kepala sebelah kanan. "Berdasarkan hasil visum, korban mengalami retak kepala bagian kanan," ungkap Hasyim saat diwawancarai di Mapolda Riau pada Jumat (3/7/2026).
Proses Penyelidikan yang Berjalan
Hasyim juga menyampaikan bahwa penanganan kasus ini mengalami sedikit kendala karena korban baru dapat diperiksa setelah kondisinya membaik. Sebelumnya, Luthfi dirawat di rumah sakit. "Proses penyelidikan kasus pemukulan Muhammad Luthfi, saat ini masih terus berjalan. Terkait masalah ini sedikit lambat, karena korban baru bisa dimintai keterangan. Tadi sudah kita periksa di Mapolda Riau," jelasnya.
Selain mendengarkan keterangan dari korban, penyidik juga telah meminta keterangan dari dua mahasiswa lain yang menjadi saksi. Mereka juga sedang menganalisis barang bukti berupa rekaman video yang diambil saat demonstrasi, yang kini sedang diteliti di pusat laboratorium forensik. "Hari ini, mahasiswa memberikan ke kita satu buah flashdisk berisi rekaman video. Video tersebut akan kita teliti untuk menentukan siapa pelakunya," tambah Hasyim.
Reaksi Mahasiswa dan Tindakan Polisi
Pada Jumat sore, sejumlah mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di Mapolda Riau untuk mendesak agar kasus pemukulan Muhammad Luthfi ditangani secara serius. "Ya, tadi kita menerima mahasiswa melakukan aksi demo ke Polda Riau. Mereka meminta kasus pemukulan Muhammad Luthfi harus ditangani dengan serius. Kita serius tangani kasus ini," ujar Hasyim, menanggapi tuntutan mahasiswa.
Insiden pemukulan terjadi pada 22 Juni 2026, saat demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Cipayung Plus Kota Pekanbaru. Kericuhan terjadi ketika polisi mengamankan ban dan bahan bakar minyak yang diduga akan digunakan untuk membakar. Kapolresta Pekanbaru, Kombes Muharman Arta, menjelaskan bahwa tindakan tersebut diambil untuk mencegah potensi bahaya bagi peserta aksi dan pengguna jalan lainnya.
Situasi semakin memanas ketika massa membakar foto Ketua DPRD Riau dan berusaha membakar spanduk dengan bahan bakar yang disiapkan. Meskipun terjadi kericuhan, aparat berhasil mengendalikan situasi dan aksi orasi dapat dilanjutkan hingga perwakilan mahasiswa menyerahkan tuntutan kepada Ketua DPRD Provinsi Riau.
Muharman menegaskan bahwa pihaknya sedang mendalami laporan tentang pemukulan yang dialami oleh Muhammad Luthfi, yang merupakan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Pekanbaru. "Kami turut prihatin atas peristiwa yang dialami peserta aksi. Saat ini kami tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan memastikan seluruh proses berjalan secara profesional serta transparan," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa pihaknya akan terus mendalami fakta-fakta yang ada, termasuk keterangan saksi, korban, serta dokumentasi yang tersedia. "Kami akan menelusuri secara menyeluruh apakah benar telah terjadi pemukulan sebagaimana yang disampaikan, bagaimana kronologinya, siapa yang melakukan, serta apa motif dan latar belakang kejadian tersebut," tutup Muharman.