Kesehatan

Perbedaan Hamil Anggur dan Hamil Ektopik yang Perlu Diketahui

Kehamilan dapat mengalami komplikasi seperti hamil anggur dan hamil ektopik, yang masing-masing memiliki penyebab dan risiko yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya penting untuk penanganan yang tep...

I
Ilham Saputra
08 May 2026 8 pembaca
Perbedaan Hamil Anggur dan Hamil Ektopik yang Perlu Diketahui
Ilustrasi. Beda hamil anggur dan hamil ektopik. (iStockphoto/FatCamera)

Kehamilan idealnya terjadi ketika sel telur yang dibuahi berhasil menempel dan berkembang di dalam rahim. Namun, perjalanan menuju kehamilan yang sehat tidak selalu berjalan mulus. Terkadang, komplikasi dapat muncul dalam bentuk hamil anggur atau hamil di luar kandungan (ektopik). Meskipun kedua kondisi ini terjadi pada fase awal kehamilan, mereka merupakan masalah medis yang sangat berbeda, baik dari segi penyebab maupun risiko yang dihadapi oleh ibu.

Pemahaman Hamil Anggur dan Hamil Ektopik

Hamil anggur terjadi akibat pertumbuhan jaringan plasenta yang tidak normal. Sementara itu, hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang dibuahi menempel di luar rongga utama rahim. Secara medis, hamil anggur, yang juga dikenal sebagai mola, adalah komplikasi langka yang melibatkan pertumbuhan abnormal sel trofoblas, yang seharusnya berkembang menjadi plasenta untuk memberikan nutrisi kepada janin.

Berdasarkan informasi dari Mayo Clinic, hamil anggur dibagi menjadi dua kategori: Complete molar pregnancy, di mana jaringan plasenta membesar dan membentuk kista berisi cairan tanpa adanya janin; dan Partial molar pregnancy, di mana jaringan plasenta terdiri dari kombinasi jaringan normal dan abnormal, di mana janin mungkin terbentuk tetapi tidak dapat bertahan hidup dan biasanya berakhir dengan keguguran.

Perbedaan Penyebab dan Tanda-tanda

Berbeda dengan hamil anggur, kehamilan ektopik adalah kondisi di mana embrio tidak berkembang di tempat yang seharusnya. Menurut Cleveland Clinic, sebagian besar kasus kehamilan ektopik terjadi di saluran tuba falopi. Karena saluran ini tidak dirancang untuk menampung pertumbuhan embrio, risiko terbesar adalah pecahnya tuba, yang dapat menyebabkan perdarahan hebat dan mengancam jiwa.

Penyebab dari kedua kondisi ini juga berbeda. Hamil anggur disebabkan oleh kesalahan genetik pada proses pembuahan, di mana komposisi kromosom tidak seimbang. Sementara itu, hamil ektopik lebih sering dipicu oleh gangguan fisik pada saluran tuba yang menghalangi perjalanan sel telur menuju rahim. Faktor risiko untuk hamil ektopik meliputi jaringan parut akibat operasi panggul, riwayat infeksi menular seksual, endometriosis, dan kelainan bentuk tuba falopi sejak lahir.

Kedua kondisi ini pada awalnya dapat terasa seperti kehamilan normal, namun seiring berjalannya waktu, tanda-tanda khas mulai muncul. Tanda hamil anggur meliputi:

  • Perdarahan vagina berwarna cokelat tua hingga merah terang pada trimester pertama.
  • Mual dan muntah yang sangat hebat (hiperemesis).
  • Muncul kista menyerupai butiran anggur yang keluar dari vagina.
  • Ukuran rahim membesar lebih cepat dari yang seharusnya.

Sementara tanda hamil ektopik meliputi:

  • Perdarahan vagina disertai nyeri perut bagian bawah yang tajam.
  • Nyeri pada punggung bawah.
  • Lemas hingga pusing hebat.

Jika tuba falopi pecah, pasien dapat mengalami nyeri bahu mendadak, pingsan, dan penurunan tekanan darah yang drastis akibat perdarahan internal.

Namun, kabar baiknya adalah kedua komplikasi ini tidak berarti mengakhiri peluang untuk memiliki anak di masa depan. Wanita yang pernah mengalami hamil anggur umumnya disarankan untuk menunggu antara enam bulan hingga satu tahun sebelum mencoba hamil kembali, guna memastikan bahwa jaringan abnormal benar-benar hilang. Sementara itu, perempuan yang mengalami kehamilan ektopik masih memiliki peluang besar untuk hamil secara normal di kemudian hari, bahkan jika salah satu saluran tuba harus diangkat melalui prosedur bedah.

Artikel Terkait