BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 08:10 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Senin, 03 Agt 2026 02:22 WIB

Perjalanan Inspiratif Ranto Siagian Mendirikan Komunitas Edukasi Keuangan

03 Agt 2026, 02:22 WIB 58x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
B
Bagas Prakoso 58x dibaca · 3 menit baca
Perjalanan Inspiratif Ranto Siagian Mendirikan Komunitas Edukasi Keuangan
regional.kompas.com

Kehidupan Ranto Siagian, pendiri Ran Trade, merupakan contoh inspiratif dari seseorang yang berhasil mengubah tantangan menjadi peluang. Lahir di Samarinda pada 25 Agustus 1998, Ranto tumbuh dalam keluarga sederhana yang mengalami kesulitan ekonomi. Akibatnya, orang tuanya memutuskan untuk menitipkan Ranto dan beberapa saudaranya ke panti asuhan agar mereka tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Ranto menghabiskan masa pendidikan di panti asuhan mulai dari kelas I sekolah dasar hingga lulus dari sekolah menengah kejuruan. Di sana, ia belajar banyak hal yang membentuk karakternya dan menjadi bekal untuk kariernya di masa depan. "Saya belajar bermain musik, berlatih berbicara di depan umum saat berinteraksi dengan para donatur, hingga mengenal kedisiplinan melalui berbagai kegiatan rutin yang terjadwal," ungkap Ranto.

Membangun Komunitas Edukasi

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMK, Ranto berharap untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, namun terpaksa mengurungkan niatnya karena keterbatasan biaya. Pengalaman hidupnya membentuk pandangannya tentang pendidikan, di mana ia percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang teori, tetapi juga tentang disiplin, konsistensi, dan kemampuan untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Pandangan ini kemudian diwujudkan dengan mendirikan Ran Trade pada 1 Juli 2024, sebuah komunitas edukasi pasar keuangan.

Kehadiran Ran Trade bertepatan dengan meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar keuangan Indonesia. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa jumlah investor mencapai lebih dari 26 juta per 30 April 2026, meningkat 30,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, peningkatan jumlah investor tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai, dengan Otoritas Jasa Keuangan mencatat kerugian akibat investasi ilegal mencapai Rp142,22 triliun dari 2017 hingga kuartal III 2025.

Pendidikan dan Manajemen Risiko

Ranto menekankan pentingnya pemahaman mengenai risiko dalam berinvestasi. Ia menyadari bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan akses ke instrumen investasi, tetapi juga pengetahuan tentang risiko yang terlibat. Oleh karena itu, Ran Trade tidak hanya menawarkan kelas daring, tetapi juga seminar tatap muka. "Kelas online memang lebih praktis, tapi lewat seminar tatap muka saya bisa melihat langsung apakah peserta benar-benar memahami materi dan kesulitan yang mereka alami," jelasnya.

Salah satu seminar yang diadakan di Surabaya pada bulan Juli lalu menarik peserta dari berbagai daerah, bahkan luar negeri. Materi yang diajarkan berfokus pada Metode BRG, sebuah pendekatan yang dikembangkan Ranto berdasarkan pengalamannya di pasar keuangan. "Yang membedakan Metode BRG adalah pendekatannya yang terstruktur, mulai dari membaca arah pasar, menentukan area entry, hingga mengatur risiko sebelum mengambil posisi," tambahnya.

Ranto juga menegaskan bahwa metode yang diajarkannya tidak menjanjikan keuntungan tertentu. "Saya tidak pernah menjanjikan tingkat keberhasilan atau profit tetap, karena hasil trading dipengaruhi oleh kondisi pasar, kedisiplinan, psikologi, dan cara setiap orang mengelola risikonya. Metode ini adalah panduan untuk membuat keputusan lebih terukur, bukan jaminan pasti untung," ujarnya.

Sejak awal berdirinya, Ran Trade mengalami berbagai tantangan, terutama dalam membangun kepercayaan di tengah maraknya investasi ilegal. Meskipun banyak materi yang disiapkan tidak mendapatkan respons yang diharapkan, Ranto dan timnya terus berupaya memperbaiki penyampaian materi dan menjalankan kegiatan edukasi secara konsisten. Hasilnya, komunitas ini kini memiliki 2.783 anggota aktif dan lebih dari 87.570 pengikut di berbagai platform media sosial.

Salah satu peserta seminar, Ilham, mengaku hadir setelah mengalami kerugian dalam investasi akibat kurangnya pemahaman tentang manajemen risiko. Ia berharap seminar ini dapat membantunya memahami kesalahan yang pernah dilakukannya agar tidak terulang di masa depan.