MEDAN — Nila Panggabean (55) menunjukkan semangat yang luar biasa meskipun telah berjuang melawan lupus selama hampir tiga dekade. Perempuan asal Medan ini tetap menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan merawat dua anaknya yang merupakan penyandang autisme, meskipun penyakit autoimun yang dideritanya sering kali menyerang berbagai organ tubuhnya.
Nila masih mengingat dengan jelas saat pertama kali didiagnosis mengidap lupus pada tahun 1999, ketika usianya baru 28 tahun. “Mulai turun berat badan saya, karena saya dari dulu gemuk. Ketika sudah bekerja lima tahun, saya suka pusing. Hb saya turun dan rutin transfusi darah. Mulanya saya didiagnosis kanker darah. Terus diperiksa lagi, barulah terdeteksi saya penderita lupus,” ungkap Nila saat ditemui di Rumah Sakit Regina Maris Medan.
Perjuangan Melawan Penyakit
Diagnosis tersebut menjadi pukulan berat bagi Nila yang dikenal sebagai pribadi yang aktif dan ceria. Selama lebih dari setahun, ia menjalani terapi, namun lupus yang menyerang sistem kekebalan tubuhnya terus kambuh dan memengaruhi berbagai organ. Kehidupan Nila dipenuhi dengan keluar masuk rumah sakit, tetapi ia tetap berusaha untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya.
“Di usia 33 saya memutuskan untuk menikah. Setahun kemudian saya punya anak pertama. Penyakit lupus saya kembali menyerang, kali ini di darah, lalu tahun-tahun berikutnya menyerang paru-paru saya,” jelasnya. Akibat komplikasi yang ditimbulkan, Nila harus menjalani perawatan selama delapan bulan dan bahkan harus tidur dalam posisi duduk karena mengalami pneumonia. Setelah melahirkan anak keduanya, Nila harus menghadapi kehilangan ketika bayi tersebut meninggal dunia pada usia enam bulan akibat komplikasi kesehatan.
“Selesai operasi harus ada masukan darah. Pas lahir anak kedua ini, enam bulan setengah anak saya meninggal, komplikasi. Lalu saya masuk ICU karena lupus langsung menyerang ketahanan tubuh. Itu masa terberat saya,” kenangnya.
Anak-Anak Sebagai Sumber Kekuatan
Di usia 42 tahun, Nila kembali hamil meskipun dokter telah memperingatkan tentang risiko yang mungkin terjadi. Kehamilan tersebut berjalan baik dan anaknya lahir dengan selamat. Nila mengungkapkan bahwa kedua anaknya adalah penyandang autisme, namun kondisi tersebut justru menjadi sumber kekuatan baginya. “Kedua anak saya terlahir difabel, penyandang autisme. Saya ambil positifnya. Malah anak saya itu jadi penyemangat saya,” tuturnya.
Di tengah perjuangannya membesarkan anak-anak, lupus kembali menyerang tulang dan sendinya. Rasa nyeri pada panggul, lutut, dan paha membuatnya tidak bisa berjalan selama berbulan-bulan. “Selama delapan bulan saya harus terapi. Mulai dari 2015 sampai sekarang. Lupus menyerang tulang, kadang ke kulit, hingga kandung kemih,” tambahnya.
Saat ini, Nila berada dalam fase remisi, yang berarti aktivitas penyakit lupusnya sangat minimal dan gejalanya jauh berkurang. Untuk menjaga kesehatannya, ia menerapkan pola hidup disiplin yang dirancang sendiri. “Saya rutin minum air putih cukup, berjemur di matahari pagi, makan sehat, tidur enam jam, dan olahraga. Namun yang paling penting adalah memanajemen hati dan pikiran,” ujarnya.
Nila percaya bahwa kesehatan mental memiliki peran penting dalam menjaga kondisi penyintas lupus. “Karena lupus ini akan menyerang kita secara membabi buta. Begitu kita jatuh, enggak ada yang bantu kita kalau bukan diri kita sendiri,” katanya.
Dokter penyakit lupus di Rumah Sakit Regina Maris Medan, Andi Raga Ginting, menjelaskan bahwa lupus adalah penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat. “Harusnya dia menyerang bakteri atau virus yang masuk, tetapi lupus malah menyerang sel-sel tubuh kita yang sehat. Bisa mengenai kulit, ginjal, sendi, darah, jantung, paru-paru, semua organ dari ujung rambut sampai ujung kaki bisa kena,” jelas Andi.
Menurutnya, sekitar 90% penyintas lupus adalah perempuan usia produktif. Meskipun demikian, Andi menegaskan bahwa banyak penyandang lupus masih dapat menjalani hidup normal dengan pengobatan dan pengelolaan kesehatan yang tepat. “Lebih dari 5 juta orang di dunia hidup dengan lupus. Apakah lupus bisa tidak kambuh lagi? Bisa. Kami menyebutnya remisi,” ujarnya.
Andi juga menekankan bahwa lupus bukanlah penyakit menular, bukan kanker, dan bukan kutukan. “Jaga kesehatan, mental, stres dikelola, dan tetap semangat menjalani proses menuju remisi. Selain pola hidup sehat, obat juga bisa mengontrol agar tidak terjadi komplikasi akibat lupus,” tambahnya.