LAMONGAN - Pertemuan emosional terjadi antara dua sahabat masa kecil di Desa Sidobinangun, Lamongan, Jawa Timur. Ipda Purnomo, seorang perwira polisi, memeluk sahabatnya, Aji, yang kini berprofesi sebagai kuli bangunan. Keduanya pernah bersekolah bersama di tingkat menengah pertama, namun perjalanan hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. Purnomo kini menjalani karir sebagai polisi, sementara Aji berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sebagai kuli bangunan.
Keduanya bertemu kembali ketika Purnomo mengunjungi sekolah di Desa Sidobinangun untuk membagikan paket tas sekolah dan makanan dalam program Jumat Berkah kepada siswa. Aji yang sedang bekerja di lokasi merasa ragu untuk menyapa Purnomo, namun Purnomo justru menghampirinya dan memberikan pelukan hangat. "Saya merasa kasihan, dan saya harus membantunya. Aku yang langsung tegur karena mungkin dia malu," kenang Purnomo.
Pertemuan yang Mengharukan
Pelukan tersebut membuat Aji tak dapat menahan air mata. Ia kemudian menceritakan kondisi kehidupannya kepada Purnomo. Dalam tangisnya, Aji membandingkan kehidupannya dengan Purnomo. "Saya merinding, sedih saat dia memeluk dan menangis sambil berkata, 'hidupmu enak punya mobil, sedang aku motor saja tidak punya'," ungkap Purnomo menirukan sahabatnya.
Purnomo merasa sedih mendengar ucapan tersebut. Menurutnya, masalah yang dihadapi Aji bukan hanya soal tidak memiliki sepeda motor, tetapi juga kesulitan dalam mencari nafkah dan mengantar anaknya ke sekolah. Purnomo kemudian menyatakan niatnya untuk membantu Aji dengan membelikannya sepeda motor. "Akhirnya saya berucap, 'saya belikan motor.' Malah dia menangis dan memeluk makin lama. Saya bilang ke dia, 'aku koncomu (aku temanmu)'," kata Purnomo.
Kenangan Masa SMP dan Harapan untuk Persahabatan
Bagi Purnomo, membantu Aji adalah bentuk kepedulian kepada sahabat yang sedang menghadapi kesulitan. Ia mengingat masa-masa mereka di bangku SMP, saat keduanya masih memiliki nasib yang tidak jauh berbeda. "Sosok Mas Aji saat sekolah dulu itu diam, nurut, dan selalu mengalah. Mohon maaf, memang sejak SMP beliau termasuk kurang beruntung dari segi ekonominya," jelasnya.
Purnomo juga mengingat bagaimana mereka sering berangkat sekolah bersama menggunakan sepeda. Ia sering membelikan makanan untuk Aji karena kondisi ekonomi keluarganya yang sulit. Kini, meskipun kehidupan mereka telah berpisah jauh, Purnomo berharap hubungan persahabatan mereka tetap terjaga. "Jaga pertemanan sampai kapan pun, jangan jadikan apa pun untuk menghalangi silaturahim. Bantu teman jika kita mampu dan bisa," pesan Purnomo.
Pertemuan di Desa Sidobinangun ini bukan hanya sekadar reuni, tetapi juga menunjukkan bahwa meskipun hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda, persahabatan yang terjalin sejak kecil tetap dapat menjadi sumber kekuatan satu sama lain.