KULON PROGO — Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang terletak di Padukuhan Kedungrong, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, telah beroperasi selama 14 tahun dengan memanfaatkan aliran air dari irigasi Kalibawang. Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong, Sumberrini, menyatakan bahwa hampir semua rumah tangga di daerah tersebut kini telah memanfaatkan listrik dari sumber energi air ini. “Manfaatnya besar banget. Semua rumah sudah memakai PLTMH,” ungkap Rini, sapaan akrabnya.
PLTMH Kedungrong memiliki kapasitas sekitar 18 kilowatt dan melayani sekitar 50 rumah. Sistem distribusi listrik di wilayah ini masih berbasis komunitas, di mana warga membayar iuran sebesar Rp 12.000 setiap 35 hari untuk biaya perawatan. Rini menambahkan bahwa keberadaan PLTMH telah mendorong pertumbuhan berbagai usaha di masyarakat, seperti bengkel las, salon, dan jasa jahit. “Kalau pertukangan ada mesin serut, bengkel ada las listrik, salon juga semuanya pakai listrik,” jelasnya.
Ruang Belajar untuk Berbagai Kalangan
PLTMH Kedungrong kini juga berfungsi sebagai ruang belajar terbuka bagi banyak pihak. Mahasiswa, peneliti, dan siswa SD sering berkunjung untuk melihat secara langsung bagaimana energi air diubah menjadi listrik. “Banyak kunjungan. Dari universitas seperti UGM, Monash University juga pernah, sampai anak SD dan SMP,” kata Rini. Di lokasi PLTMH, terdapat laboratorium sederhana yang digunakan untuk menjelaskan cara kerja pembangkit listrik mikrohidro. Pengalaman ini memberikan cara baru bagi siswa untuk memahami energi secara langsung, bukan hanya dari buku.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Namun, perjalanan PLTMH tidak selalu berjalan mulus. Tantangan utama yang dihadapi datang dari alam. Sampah yang terbawa aliran sungai sering kali menghambat aliran air ke turbin, yang berdampak pada produksi listrik. “Kalau sampah menumpuk, aliran ke turbin terganggu. Jadi harus rutin dibersihkan,” tambahnya. Ketergantungan pada kondisi sungai membuat PLTMH tetap memerlukan dukungan dari jaringan listrik nasional sebagai cadangan. Di sisi lain, masyarakat berharap agar kesadaran untuk menjaga lingkungan di wilayah hulu sungai dapat meningkat.
PLTMH Kedungrong ini berawal dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada pada 2009 dan mulai terealisasi pada 2012 setelah mendapatkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Selama lebih dari satu dekade, PLTMH ini tidak hanya menjadi sumber listrik, tetapi juga simbol kemandirian energi berbasis komunitas. Selain Kedungrong, aliran irigasi Kalibawang juga memberikan manfaat di daerah lain, seperti di Padukuhan Blumbang, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, di mana warga juga menikmati listrik dari PLTMH sejak 2017. Dukuh Blumbang, Ratiyono, menyatakan bahwa hampir seluruh warga kini telah merasakan manfaat dari pembangkit yang dibangun sejak 2012. “Sekarang hampir tidak pernah mati lampu,” ujarnya.
PLTMH tersebut melayani sekitar 130 rumah dengan sistem komunal tanpa meteran, menggunakan MCB 2–6 ampere, serta iuran sekitar Rp 5.000 per bulan untuk operasional. Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti lampu, televisi, dan kulkas, listrik juga mendorong pertumbuhan usaha warga, termasuk kuliner, catering, dan produksi makanan.