BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 04:52 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Sabtu, 20 Jun 2026 07:06 WIB

Potensi Kabut Radiasi di Jawa Tengah Saat Musim Kemarau 2026, BMKG Beri Peringatan

20 Jun 2026, 07:06 WIB 42x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
F
Fadil Ramadhan Akbar 42x dibaca · 3 menit baca
Potensi Kabut Radiasi di Jawa Tengah Saat Musim Kemarau 2026, BMKG Beri Peringatan
regional.kompas.com

CILACAP - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan kepada warga Jawa Tengah mengenai potensi munculnya kabut radiasi pada musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada tahun 2026. Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyatakan bahwa fenomena ini akan muncul pada malam hingga pagi hari, bersamaan dengan masuknya musim kemarau di wilayah tersebut.

“Fenomena ini umum terjadi pada malam hingga pagi hari dan akan menghilang setelah Matahari terbit serta mulai menghangatkan suhu udara,” ungkap Teguh.

Penyebab Munculnya Kabut Radiasi

Teguh menjelaskan bahwa kabut yang berpotensi muncul adalah kabut radiasi. Fenomena ini terjadi ketika permukaan Bumi mengalami pendinginan yang cepat setelah Matahari terbenam. Pada malam hari yang cerah dan minim awan, panas yang tersimpan di permukaan tanah selama siang hari akan dilepaskan ke atmosfer. Hal ini menyebabkan suhu udara di dekat permukaan Bumi turun dengan cepat, sehingga uap air berubah menjadi butiran-butiran air kecil yang melayang di udara dan membentuk kabut.

Selain kabut, Teguh juga mengingatkan masyarakat akan adanya perubahan suhu yang mulai dirasakan di berbagai daerah di Jawa Tengah. “Secara umum sejumlah wilayah Jawa Tengah, khususnya Cilacap dan sekitarnya, sudah masuk musim kemarau,” katanya. “Beberapa cirinya sudah tampak, suhu udara pada malam dan pagi hari lebih dingin dibanding biasanya, sedangkan pada siang hari sinar matahari terasa lebih menyengat karena tutupan awan lebih sedikit,” tambah Teguh.

Data Suhu dan Imbauan BMKG

Berdasarkan pengamatan BMKG, suhu minimum yang tercatat di Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap pada Jumat, 19 Juni 2026, berada di kisaran 24 derajat Celsius. Menurut Teguh, angka tersebut masih tergolong normal secara klimatologis. Namun, masyarakat yang tinggal di daerah dataran tinggi berpotensi merasakan udara yang lebih dingin.

Wilayah seperti Cilacap bagian barat, Banyumas, dan sekitarnya umumnya memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan kawasan pesisir selatan. Teguh menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh ketinggian wilayah yang menyebabkan suhu udara menurun. “Kondisi ini merupakan fenomena alami yang umum terjadi pada musim kemarau,” jelasnya.

Data klimatologi dari periode 1991-2020 menunjukkan bahwa suhu minimum absolut di Cilacap pada bulan Juni pernah mencapai 18,8 derajat Celsius pada tahun 1994. Suhu terendah secara klimatologis tercatat pada Agustus 1994 dengan angka 17,4 derajat Celsius. Teguh menekankan bahwa suhu minimum saat ini masih dalam kategori normal, tetapi ada kemungkinan penurunan suhu seiring dengan mendekatnya puncak musim kemarau.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan cuaca yang terjadi selama musim kemarau. Udara dingin pada malam dan pagi hari dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi individu yang sensitif terhadap suhu rendah atau memiliki alergi dingin. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk mengenakan pakaian yang lebih hangat saat beraktivitas di malam hingga pagi hari.

BMKG meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai dampak musim kemarau. Meskipun musim kemarau tahun ini diperkirakan berada di bawah normal, potensi kekeringan dan kebakaran lahan tetap perlu diantisipasi sejak dini. “Perlu antisipasi dini terhadap dampak musim kemarau seperti kekurangan air bersih dan kebakaran lahan, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” tutup Teguh.