Bank Indonesia (BI) tetap pada proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang rendah di tengah ketidakpastian ekonomi dan situasi geopolitik yang belum stabil. Meskipun konflik di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 3 persen.
Dalam konferensi pers terkait Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilaksanakan secara virtual pada Kamis, 18 Juni 2026, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, “Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan tetap rendah sebesar 3,0 persen dan diikuti naiknya tekanan inflasi menjadi sekitar 4,4 persen.”
Ketidakpastian Global Masih Tinggi
Perry menambahkan bahwa meskipun ada penurunan ketegangan setelah perjanjian sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 14 Juni 2026, ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah tetap tinggi. “Perang yang telah berlangsung di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 telah menimbulkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara serta menurunkan prospek perekonomian global,” jelasnya.
Respon Bank Sentral Terhadap Inflasi
Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakan mereka untuk menghadapi inflasi yang diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 4,4 persen pada tahun 2026. Saat ini, suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate, dipertahankan pada level 3,75 persen, dengan kemungkinan kenaikan di masa depan seiring dengan prospek inflasi yang lebih tinggi di AS.
Imbal hasil (yield) US Treasury tetap tinggi, dengan angka mencapai 4,49 persen untuk tenor 10 tahun dan 4,18 persen untuk tenor 2 tahun pada 17 Juni 2026, yang dipicu oleh defisit fiskal yang semakin membesar. Selain itu, indeks dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY) menunjukkan kekuatan yang signifikan.
Akibatnya, minat investor global untuk berinvestasi di pasar negara berkembang (emerging markets) masih lemah, dan banyak yang beralih ke aset aman di negara maju. “Ke depan, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tutup Perry.