BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 08:10 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Rabu, 15 Jul 2026 15:34 WIB

Ribuan Warga Serbu Buceng dalam Tradisi Grebeg Tutup Suro di Ponorogo

15 Jul 2026, 15:34 WIB 85x dibaca 2 menit baca surabaya.kompas.com surabaya.kompas.com
A
Almira Rara Susanti 85x dibaca · 2 menit baca
Ribuan Warga Serbu Buceng dalam Tradisi Grebeg Tutup Suro di Ponorogo
surabaya.kompas.com

PONOROGO, Ribuan warga berpartisipasi dalam tradisi Buceng Porak yang merupakan bagian dari Grebeg Tutup Suro 2026, yang berlangsung di Lapangan Bantarangin, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Selasa (14/7/2026) sore. Dalam acara tersebut, enam buceng yang berisi hasil bumi menjadi rebutan, dan sebelum doa penutup selesai dipanjatkan, buceng tersebut sudah diserbu hingga isinya habis dalam waktu singkat.

Warga terlihat saling berebut buah-buahan dan hasil bumi yang disusun dalam bentuk gunungan. Agung, salah satu warga dari Desa Kalimalang, Kecamatan Sukorejo, mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya rutin mengikuti tradisi ini setiap tahun. "Kami percaya akan mendapat berkah. Makanya warga semangat untuk mendapatkan buceng porak,” ujarnya setelah berhasil mengumpulkan beberapa buah dari gunungan buceng porak.

Makna di Balik Perebutan Buceng

Triyono, warga lainnya yang juga ikut memperebutkan buceng, menjelaskan bahwa tujuan berebut bukan hanya untuk mendapatkan hasil bumi, tetapi juga sebagai ikhtiar untuk memperoleh doa dan keberkahan. Ia meyakini bahwa hasil bumi yang telah didoakan akan membawa keberkahan, seperti kelancaran rezeki, kesehatan, dan keselamatan bagi keluarga. "Kiat ngalab berkahnya agar panjang umur, tambah banyak rezekinya, dan semoga semua harapan bisa tercapai," tuturnya.

Tradisi yang Dikenang

Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyampaikan bahwa tradisi Buceng Porak selalu diawali dengan doa bersama. Masyarakat percaya bahwa hasil bumi yang diperebutkan mengandung berkah. Ia berharap agar masyarakat Ponorogo selalu dilimpahi keberkahan dalam kesehatan, kesuburan, dan kesejahteraan. "Memang ini acara yang ditunggu-tunggu masyarakat untuk mendapatkan keberkahan. Makanya mereka berebut hasil bumi tersebut karena ingin mendapatkan berkah. Sebelumnya Buceng Porak kita doakan dulu. Tadi doanya memang belum selesai, tapi sudah diporak. Mudah-mudahan tetap menjadi berkah untuk semuanya," ungkapnya.

Tradisi Buceng Porak menandai berakhirnya rangkaian Grebeg Suro 2026 di Ponorogo, yang selama hampir sepekan dipenuhi dengan berbagai kegiatan budaya, religi, dan ekonomi kreatif. Sebelumnya, masyarakat juga mengikuti Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP), Festival Reog Remaja (FRR), kirab pusaka, larungan risalah doa, pameran dan bazar UMKM, serta beragam pertunjukan seni tradisional di Alun-alun Ponorogo. Puncaknya ditandai dengan doa bersama dan Buceng Porak di Bantarangin yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus harapan akan keberkahan di tahun baru dalam penanggalan Jawa.

Bagi masyarakat Ponorogo, hasil bumi yang diperebutkan bukan sekadar buah dan sayuran, melainkan juga lambang doa, kebersamaan, dan usaha untuk memperoleh berkah. Dengan selesainya Buceng Porak, rangkaian peringatan Bulan Suro resmi ditutup. Namun, semangat untuk melestarikan budaya, menjaga warisan leluhur, dan memperkuat identitas Ponorogo sebagai Kota Reog diharapkan tetap hidup sepanjang tahun, tidak hanya saat perayaan Bulan Suro.