BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 02:41 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Selasa, 30 Jun 2026 08:17 WIB

Sanggar Putra Rengganis: Melestarikan Tari Tradisional di Pangandaran Selama Hampir Satu Dekade

30 Jun 2026, 08:17 WIB 26x dibaca 4 menit baca bandung.kompas.com bandung.kompas.com
A
Almira Rara Susanti 26x dibaca · 4 menit baca
Sanggar Putra Rengganis: Melestarikan Tari Tradisional di Pangandaran Selama Hampir Satu Dekade
bandung.kompas.com

PANGANDARAN — Di tengah perkembangan budaya populer dan tarian modern, Sanggar Putra Rengganis di Pangandaran tetap berpegang pada tradisi. Dipimpin oleh Iis Rahmini Juni Anita, sanggar ini telah berkomitmen selama hampir satu dekade untuk menanamkan kecintaan terhadap seni tari tradisional kepada anak-anak, bahkan yang berusia tiga tahun. Iis percaya bahwa pengenalan seni kepada anak-anak tidak dapat dilakukan dengan cara yang memaksa, terutama untuk anak-anak yang emosinya masih labil. Oleh karena itu, ia menerapkan pendekatan yang unik untuk mendekati murid-murid kecilnya.

Alih-alih langsung mengajak anak-anak berlatih, Iis memilih untuk membiarkan mereka bermain terlebih dahulu hingga merasa nyaman dengan lingkungan sanggar. Ia membiarkan anak-anak menemukan teman dekat mereka sebelum perlahan-lahan tertarik untuk masuk ke dunia tari. “Saya tidak langsung masuk ke dunia mereka, tapi memancing supaya mereka masuk ke dunia saya. Saya biarkan mereka bermain dulu sampai nyaman, punya teman. Nanti setelah nyaman, mereka sendiri yang bilang ke orang tuanya, ‘Ma, saya ingin les seni,’ baru di situ saya masuk,” ungkap Iis.

Mengenalkan Akar Tari Sejak Dini

Pendekatan yang diterapkan menjadi bagian penting dalam menjaga agar proses belajar seni tetap menyenangkan. Meskipun terlihat santai, sanggar tetap memegang prinsip bahwa anak-anak harus mengenal akar budaya sebelum mempelajari tarian kreasi modern. Untuk anak-anak prasekolah, sanggar mengenalkan ‘kaulinan barudak’ sebagai latihan awal untuk memahami tempo dan irama melalui musik yang didominasi suara kendang. Anak laki-laki diajarkan dasar Jaipongan Polostomo, sementara anak perempuan mempelajari tari klasik Keser Bojong. “Sebelum mengenalkan tarian kreasi baru, saya lebih menekankan agar anak-anak tahu dulu akar dan dasarnya,” jelasnya.

Evaluasi Rutin dan Latihan Mental Tampil

Konsistensi dalam pengajaran terus dijaga sejak sanggar berdiri hampir sepuluh tahun lalu. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengadakan evaluasi tengah semester setiap enam bulan selama sembilan tahun terakhir. Pada evaluasi kali ini, sekitar 50 peserta dituntut tidak hanya untuk menari, tetapi juga mengenakan atribut lengkap mulai dari kostum, rias wajah, hingga sanggul. “Hasil belajar anak itu harus ditampilkan. Jadi mereka bukan hanya sekadar latihan menari, tapi harus bisa tampil di depan banyak orang dengan kostum lengkap, make up, sanggul, dan sebagainya. Tujuannya sangat positif untuk melatih mental mereka,” papar Iis.

Latihan mental ini menjadi sangat penting, terutama karena Pangandaran sebagai daerah wisata sering mengadakan pertunjukan mendadak. Sanggar sering menerima permintaan untuk tampil pada pagi atau sore hari untuk acara malam yang dihadiri oleh pejabat hingga menteri. “Kadang ada telepon mendadak malam harus tampil karena ada menteri atau pejabat datang. Dari pagi atau sore saya langsung kumpulkan anak-anak latihan. Untungnya mereka sudah terbiasa ditonton orang dan dilatih seperti itu,” tambahnya.

Sanggar Putra Rengganis, yang kini berlokasi di Rumah Makan Mina Family di kawasan Kampung Turis Pangandaran, telah melahirkan lebih dari 400 penari sejak pertama kali berdiri. Mereka tidak hanya tampil di tingkat lokal, tetapi juga sering mewakili Pangandaran dalam berbagai kegiatan budaya tingkat provinsi, seperti Kirab Budaya Binokasih dan pertunjukan di Gedung Sate dengan menampilkan tari ronggeng gunung, ronggeng amen, dan rampak kendang. Untuk agenda besar tingkat provinsi, sanggar biasanya mengirimkan 20 hingga 25 penari pilihan dari tingkat SMP dan SMA.

Prestasi mereka juga mencakup berbagai ajang bergengsi. Terbaru, Sanggar Putra Rengganis berhasil lolos dalam seleksi Mojang Jajaka Jaipong Jawa Barat tingkat SD, SMP, dan SMA di Karawang. Namun, keterbatasan biaya membuat sanggar tidak dapat memberangkatkan seluruh peserta ke babak penyisihan. Berkat bantuan donatur, mereka akhirnya hanya bisa mengirimkan perwakilan tingkat SMA yang kemudian berhasil lolos ke grand final pada Agustus mendatang.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Iis memiliki kekhawatiran yang belum teratasi. Banyak alumni sanggar mengalami kesulitan dalam menggunakan sertifikat pelatihan tari saat mendaftar ke sekolah favorit melalui jalur prestasi, karena sertifikat tersebut tidak memiliki tanda tangan dari Dinas Pendidikan atau Dinas Kebudayaan. “Banyak anak yang sedih. Mereka sudah lama di sanggar, sertifikat banyak, evaluasi sering, tapi ketika mau masuk SMP atau SMA favorit ternyata sertifikatnya dianggap tidak bisa karena harus ada tanda tangan kepala dinas,” jelas Iis.

Masalah ini terus ia suarakan kepada pemerintah daerah. Pada tahun 2025, Iis bahkan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di Dinas Pariwisata agar dapat lebih fokus mengurus sanggar dan memperjuangkan ruang yang lebih layak bagi anak-anak seni di Pangandaran.