LAMONGAN – Untuk melanjutkan pendidikan sekaligus membantu perekonomian keluarganya, Cinta (15), seorang siswi kelas IX dari SMP Negeri Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mengambil pekerjaan di sebuah warung malam dengan upah harian sebesar Rp 25.000. Cinta yang merupakan anak piatu ini mulai bekerja setiap hari dari pukul 16.00 WIB hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Dalam beberapa situasi, ia bahkan tidak pulang ke rumah selama beberapa hari karena tuntutan pekerjaannya.
"Iya, kadang saya berangkat jam 4 sore sampai jam 10 malam. Kadang juga tidak pulang beberapa hari," ungkap Cinta saat dihubungi.
Cinta tinggal bersama ayahnya, Edi, dan dua saudaranya di Dusun Krajan, Desa Sukobendu, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan. Ayahnya berprofesi sebagai penjual mainan keliling, namun pendapatannya tidak selalu stabil. "Kadang tidak ada penghasilan sama sekali," tambah Cinta, yang merasa perlu bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolahnya.
Perhatian dari Pihak Kepolisian
Kisah Cinta menarik perhatian Ipda Purnomo dari Polres Lamongan, yang lebih akrab disapa Pak Pur. Ia menilai bahwa lingkungan tempat Cinta bekerja tidak ideal untuk anak seusianya. "Lingkungan warung yang diwarnai musik keras dan minuman keras sebenarnya bukan tempat yang aman maupun layak bagi anak seusianya," jelas Purnomo.
Purnomo juga mengungkapkan bahwa keluarga Cinta sempat merasa cemas ketika ia tidak pulang selama satu pekan karena tuntutan pekerjaan. Meskipun begitu, ia memahami keputusan Cinta untuk bekerja agar tidak putus sekolah dan tetap memiliki penghasilan.
Bantuan Modal Usaha untuk Cinta
Melihat kondisi tersebut, Purnomo memberikan bantuan modal usaha agar Cinta dapat memperoleh penghasilan tanpa harus bekerja di warung malam. "Saat ini Dek Cinta tidak lagi harus bekerja di warung malam. Kami memberikan bantuan modal yang cukup agar dia mulai merintis usaha jual makanan dan minuman ringan sendiri di teras rumahnya," kata Purnomo.
Harapannya, bantuan ini dapat memberikan Cinta rasa aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari sekaligus menyelesaikan pendidikannya. Purnomo juga mengajak masyarakat, guru, dan pihak sekolah untuk lebih memahami latar belakang kehidupan siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, agar tidak terburu-buru memberikan cap negatif tanpa mengetahui kondisi yang mereka hadapi.