BREAKING Minggu, 21 Jun 2026 17:10 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Sabtu, 20 Jun 2026 16:09 WIB

Tantangan Baru dalam Pemulihan Sektor Pariwisata Menurut HIPPI

20 Jun 2026, 16:09 WIB 10x dibaca 3 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
K
Komang Yoga 10x dibaca · 3 menit baca
Foto: HIPPI
Foto: HIPPI

Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) mengungkapkan bahwa pemulihan sektor pariwisata harus diimbangi dengan peningkatan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal. Meskipun jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat, perhatian juga harus diberikan pada penguatan nilai ekonomi di setiap destinasi wisata.

Peningkatan Kunjungan dan Tantangan Ekonomi

Rizanto Binol, pengurus HIPPI di bidang Pariwisata dan Budaya, menyatakan bahwa banyak destinasi wisata saat ini menunjukkan aktivitas yang semakin ramai. Namun, peningkatan jumlah pengunjung tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan yang merata bagi pelaku usaha lokal. "Pengunjung ada, tetapi pengeluaran tidak. Pertumbuhan tanpa keseimbangan hanya akan menimbulkan tekanan di bagian bawah. Situasi ini memperlihatkan adanya paradoks. Destinasi ramai, tetapi tidak semua pelaku usaha memperoleh dampak ekonomi yang sepadan," jelas Rizanto.

Dia menambahkan bahwa perubahan pola konsumsi wisatawan juga berkontribusi terhadap kondisi ini. Wisatawan kini lebih selektif dalam pengeluaran, cenderung memilih perjalanan yang lebih singkat, serta lebih mengutamakan aktivitas yang terjangkau.

Strategi untuk Meningkatkan Manfaat Ekonomi

HIPPI mendorong agar pengembangan pariwisata tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga pada penguatan nilai ekonomi yang dapat dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha di daerah tujuan wisata. Rizanto menekankan bahwa ukuran keberhasilan sektor pariwisata harus mencakup besarnya manfaat ekonomi yang dapat bertahan di daerah serta kontribusinya terhadap penguatan usaha lokal. "Pariwisata Indonesia tidak boleh hanya ramai secara statistik, tetapi harus kuat secara ekosistem. Ukuran keberhasilannya adalah berapa besar manfaat yang tinggal di daerah, dirasakan pelaku usaha lokal, dan memperkuat budaya serta ekonomi masyarakat," ungkapnya.

Untuk meningkatkan dampak ekonomi pariwisata, HIPPI mengidentifikasi berbagai area yang dapat diperkuat. Salah satunya adalah peningkatan kapasitas dan daya saing pelaku usaha lokal agar dapat meraih manfaat lebih besar dari pertumbuhan kunjungan wisatawan. Selain itu, pengembangan paket wisata tematik, kurasi produk kriya, serta integrasi UMKM kuliner dianggap dapat mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan meningkatkan pengeluaran mereka saat berwisata.

HIPPI juga menekankan pentingnya keterlibatan pemandu wisata lokal, perajin, seniman, hingga komunitas adat dalam memperkuat daya tarik destinasi dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Di sisi lain, transformasi digital bagi UMKM pariwisata perlu terus diperkuat, tidak hanya dalam aspek promosi, tetapi juga dalam pengelolaan usaha, reputasi digital, dan sistem pembayaran yang semakin mudah diakses oleh wisatawan.

Menurut Rizanto, kekayaan budaya lokal dapat menjadi faktor pembeda yang memperkuat daya saing destinasi wisata Indonesia di tengah persaingan global. "Pariwisata yang sehat bukan hanya pariwisata yang ramai, tetapi pariwisata yang menghidupkan usaha kecil, budaya, lapangan kerja, dan harapan masyarakat. Pembangunan pariwisata harus semakin berani bergeser dari pendekatan promosi menuju pendekatan ekosistem," tutupnya.