JAKARTA – Perkembangan digitalisasi dalam industri manufaktur membuat banyak perusahaan semakin bergantung pada teknologi untuk mendukung proses produksi dan operasional mereka. Namun, peningkatan penggunaan teknologi ini juga membawa risiko yang signifikan, yakni gangguan sistem atau downtime yang dapat berdampak pada produktivitas dan kelangsungan bisnis.
Sebuah laporan berjudul The True Cost of Downtime 2024 menunjukkan bahwa pabrik-pabrik besar dalam sektor industri yang diteliti dapat mengalami kerugian rata-rata mencapai USD253 juta per tahun akibat downtime yang tidak terduga. Kerugian ini mencakup berbagai aspek, seperti terhentinya proses produksi, hilangnya pendapatan, peningkatan biaya tenaga kerja, serta biaya perbaikan darurat yang dapat mengakibatkan keterlambatan dalam pemenuhan pesanan.
Pentingnya Ketahanan Infrastruktur TI
Situasi ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur teknologi informasi mereka dengan sistem yang dapat menjaga ketersediaan layanan dan meminimalkan gangguan operasional. Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut, Biznet Gio bekerja sama dengan Rainer Server, unit bisnis Indo Mega Vision (IMV), untuk meluncurkan GIO Hybrid Cloud Infrastructure. Solusi ini mengintegrasikan lingkungan cloud dan on-premise, memberikan perusahaan opsi untuk membangun infrastruktur TI yang lebih andal dan mendukung kelangsungan operasional mereka.
Manfaat Pendekatan Hybrid Cloud
Hari Syah Agam, Wakil Presiden Pemasaran Biznet Gio, mengungkapkan bahwa meningkatnya ketergantungan perusahaan pada sistem digital membuat dampak downtime tidak hanya terbatas pada aspek teknologi informasi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap aktivitas bisnis secara keseluruhan. “Dalam lingkungan bisnis yang semakin mengandalkan sistem digital, downtime tidak lagi hanya berdampak pada sistem TI, tetapi juga pada keberlangsungan operasional perusahaan. GIO Hybrid Cloud Infrastructure membantu perusahaan membangun lapisan redundansi agar operasional tidak bergantung pada satu lingkungan infrastruktur,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa pendekatan hybrid cloud memungkinkan perusahaan untuk mengintegrasikan infrastruktur yang sudah ada dengan layanan komputasi awan, sehingga meningkatkan fleksibilitas dan mendukung strategi mitigasi risiko terhadap gangguan sistem.