MOJOKERTO – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berhasil mengelola objek wisata yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa. Setiap tahunnya, BUMDes ini mampu meraih pendapatan hingga Rp 1,6 miliar. Desa yang terletak di kaki Gunung Welirang ini mengembangkan Wisata Sawah Sumber Gempong di atas lahan bengkok seluas 3,8 hektar, yang menawarkan pemandangan indah Gunung Penanggungan serta berbagai spot foto menarik dan wahana permainan. Selain itu, terdapat mata air yang dapat digunakan sebagai tempat berenang bagi pengunjung.
Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin, menyatakan bahwa pengembangan wisata ini merupakan salah satu dari beberapa unit usaha yang dikelola oleh BUMDes. Dia menjelaskan bahwa sebelumnya lahan bengkok hanya dimanfaatkan untuk pertanian, namun kini dikembangkan menjadi objek wisata untuk meningkatkan pendapatan tanpa mengurangi hasil pertanian. “Wisata ini ada di tanah kas desa atau biasa disebut tanah bengkok. Sebab itu, menurutnya yang paling ideal mengelola asetnya adalah BUMDes. Itu yang menyebabkan kami, aset-aset yang kurang produktif kami serahkan ke BUMDes sebagai suatu usaha agar sedikitnya bisa menambah Pendapatan Asli Desa (PADes),” ungkap Zainul.
Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Wisata
Dalam pengelolaan objek wisata, BUMDes juga melibatkan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja, menjalin kemitraan, serta memberikan dukungan kepada pelaku usaha kuliner di daerah tersebut. Selain Wisata Sawah Sumber Gempong, BUMDes di Desa Ketapanrame juga mengelola wisata Taman Ghanjaran dan memiliki berbagai unit usaha lainnya, seperti penyediaan air minum, persewaan kios, pengelolaan kebersihan lingkungan, serta simpan pinjam.
Menurut Zainul, meskipun terdapat berbagai unit usaha, sektor pariwisata menjadi penyumbang pendapatan terbesar, dengan angka yang berkisar antara Rp 1,3 miliar hingga Rp 1,6 miliar per tahun. Dari total pendapatan yang diperoleh dari pariwisata, sekitar 20 persen dialokasikan untuk PADes, maksimal 25 persen untuk operasional BUMDes, 40 persen untuk pengembangan aset wisata, dan 10 persen untuk dana cadangan, sementara 5 persen sisanya digunakan untuk kegiatan sosial masyarakat.
Harapan untuk Kolaborasi Masyarakat
“Menurut kami, BUMDes itu harus bisa hadir, berbuat dan bermanfaat. Sehingga harapannya bisa merangkul semua elemen masyarakat bersama-sama membangun usaha di Ketapanrame,” tambah Zainul. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara BUMDes dan masyarakat agar tidak terjadi persaingan yang merugikan.
Dengan pendekatan yang inklusif, diharapkan BUMDes dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.