BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 03:40 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Sabtu, 20 Jun 2026 19:09 WIB

Transformasi Sampah Plastik Menjadi Tas Bernilai di Purwakarta

20 Jun 2026, 19:09 WIB 27x dibaca 2 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
H
Hana Salsabila Zaid 27x dibaca · 2 menit baca
Transformasi Sampah Plastik Menjadi Tas Bernilai di Purwakarta
regional.kompas.com

PURWAKARTA – Sampah plastik seperti kemasan bekas minyak goreng, detergen, dan sabun yang biasanya dibuang, kini dapat disulap menjadi tas cantik yang bernilai. Siti Marlinah (51), seorang penduduk Kampung Cihideung, Desa Mulyamekar, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, memanfaatkan limbah ini sebagai sumber pendapatan tambahan.

Di tengah kesibukannya sebagai pemilik usaha laundry dan penjahit, Siti mengalokasikan waktu luangnya untuk merangkai kemasan plastik bekas menjadi tas dengan berbagai ukuran dan model. Usaha ini dimulai dari keprihatinan terhadap banyaknya sampah plastik di sekitarnya dan telah ia jalani selama kurang lebih satu tahun.

Proses Kreatif Mengolah Sampah

Setiap hari, Siti mengumpulkan kemasan plastik dari tetangga, yang kemudian dibersihkan sebelum dipotong, disusun, dan dijahit menjadi tas. Untuk memperkuat dan menambah kenyamanan tas yang dihasilkan, ia juga menambahkan tali webbing dan resleting. “Bahannya saya kumpulkan dari tetangga. Mereka tahu saya membuat tas dari plastik bekas, jadi kalau ada kemasan yang masih bagus biasanya diberikan ke saya,” ujarnya.

Harga dan Waktu Produksi

Siti menjelaskan bahwa harga tas yang dijual bervariasi tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya. “Kalau ukuran kecil harganya mulai Rp 10.000. Yang besar bisa sampai Rp 70.000, tergantung model dan bahannya,” katanya. Ia menambahkan bahwa proses pembuatan tas tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. Untuk tas berukuran besar, ia memerlukan waktu sekitar satu hari, sedangkan untuk tas kecil, ia dapat membuat dua hingga tiga buah dalam sehari.

Walaupun terbuat dari limbah, hasil kerajinan Siti memiliki tampilan yang rapi dan menarik. Corak warna asli dari kemasan plastik memberikan kesan unik, sehingga setiap tas memiliki motif yang berbeda. Hasil kerajinannya dipasarkan kepada warga sekitar dan melalui media sosial, yang menurutnya membantu memperkenalkan produk kepada pembeli di luar lingkungan tempat tinggalnya. “Alhamdulillah sudah ada yang beli dari media sosial juga. Jadi bukan hanya tetangga saja,” ungkapnya.

Namun, Siti mengakui bahwa ia masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan usahanya. Keterbatasan modal menjadi salah satu penghalang untuk meningkatkan produksi dan menciptakan lebih banyak variasi produk. “Kalau ada tambahan modal, saya ingin menambah produksi dan mengembangkan usaha ini supaya bisa lebih besar,” harapnya.

Bagi Siti, membuat tas dari limbah plastik bukan sekadar untuk mencari penghasilan tambahan, tetapi juga untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya pengolahan sampah. “Harapan saya, orang-orang jangan langsung membuang plastik bekas. Kalau diolah, ternyata masih bisa menjadi barang yang bermanfaat dan punya nilai jual,” tuturnya.