BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 08:11 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Rabu, 05 Agt 2026 20:44 WIB

UGM Tindak Lanjuti Kasus Mahasiswa PPDS yang Diduga Kurang Empati kepada Pasien

05 Agt 2026, 20:44 WIB 67x dibaca 2 menit baca yogyakarta.kompas.com yogyakarta.kompas.com
B
Bagas Prakoso 67x dibaca · 2 menit baca
UGM Tindak Lanjuti Kasus Mahasiswa PPDS yang Diduga Kurang Empati kepada Pasien
yogyakarta.kompas.com

YOGYAKARTA - Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan tanggapan terkait isu yang melibatkan seorang mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berinisial EPR. Mahasiswa ini menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan komentar yang dianggap tidak berempati terhadap keluhan seorang pasien di media sosial.

Dekan FK-KMK UGM, Prof. Yodi Mahendradhata, menyatakan bahwa fakultas telah mengambil langkah-langkah untuk menanggapi permasalahan ini. Saat ini, FK-KMK UGM sedang melakukan penelaahan dan investigasi menyeluruh dengan mengumpulkan fakta serta meminta keterangan dari pihak-pihak yang terkait. Proses ini juga dilakukan sesuai dengan mekanisme dan prosedur operasional yang berlaku.

Proses Investigasi yang Transparan

Prof. Yodi menjelaskan, "Berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan bahwa proses pemeriksaan berlangsung secara obyektif, transparan dan mengedepankan asas keadilan bagi seluruh pihak." Selain investigasi, FK-KMK UGM juga memberikan pendampingan kepada keluarga almarhum, serta membuka ruang komunikasi untuk menerima masukan dan klarifikasi.

Fakultas berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang aman, inklusif, dan bermartabat, serta menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan etika profesi. FK-KMK UGM juga menegaskan akan menegakkan kebijakan fakultas terhadap berbagai bentuk pelanggaran etika, disiplin profesi, serta penyalahgunaan relasi kuasa.

Evaluasi Sistem Pendidikan Klinis

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, FK-KMK UGM melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan klinik. Evaluasi ini mencakup penguatan supervisi, pembinaan profesionalisme, serta peningkatan komunikasi antara tenaga kesehatan, peserta didik, pasien, dan keluarganya.

Prof. Yodi menambahkan, "Memperkuat pendidikan etika profesi dan pelayanan yang berpusat pada pasien melalui berbagai program pembinaan, pelatihan komunikasi efektif, refleksi profesional serta penguatan budaya empati dalam setiap tahapan pendidikan tenaga kesehatan." FK-KMK UGM juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga almarhum atas keresahan yang ditimbulkan akibat peristiwa ini.

Yodi menegaskan bahwa nilai kemanusiaan, etika profesi, dan keselamatan pasien adalah prinsip dasar yang tidak dapat ditawar dalam pendidikan dan pelayanan kesehatan. Setiap dugaan pelanggaran terhadap nilai-nilai tersebut akan ditindaklanjuti dengan serius sesuai ketentuan yang berlaku.

FK-KMK UGM berharap peristiwa ini dapat menjadi momentum refleksi bagi seluruh civitas akademika, untuk memastikan bahwa pendidikan tenaga kesehatan tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki empati dan integritas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.