Para ekonom mengamati perkembangan positif dalam data ekonomi Vietnam, yang kini telah bertransformasi menjadi negara berpendapatan menengah atas. Sementara itu, Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam data Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur, yang menunjukkan kondisi ekonomi yang kurang baik.
Didik J. Rachbini, seorang Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menjelaskan bahwa penurunan PMI Indonesia mencerminkan keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Ia menyatakan, “Keseluruhan keadaan ekonomi Indonesia bisa diprediksi atau bahkan dipotret dari satu indikator saja, yakni data PMI yang menurun bahkan nyungsep. Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50 persen.”
Analisis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Meskipun ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama tahun 2026, Didik menilai bahwa dukungan pemerintah terhadap sektor industri mengalami penurunan. Data dari S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di angka 46,9 pada bulan Juni 2026. “Sektor Industri Indonesia sudah lama terombang-ambing tidak mempunyai pijakan kebijakan yang jelas. Data PMI manufaktur yang menurun ke zona kontraksi ini memang buah dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi,” tambahnya.
Didik juga menyoroti bahwa dunia usaha saat ini menghadapi tekanan biaya akibat faktor geopolitik global serta tantangan domestik. Ia menekankan bahwa tanpa adanya kebijakan yang jelas dan insentif yang memadai, dunia usaha tidak akan berani melakukan investasi. “Birokrasi yang masih ruwet juga menjadi penghambat,” ungkapnya.
Perbandingan dengan Vietnam
Dalam perbandingan dengan Vietnam, Didik menekankan bahwa negara tersebut telah berhasil menciptakan kebijakan yang mendukung investasi dan mengembangkan sektor industrinya selama dua hingga tiga dekade terakhir. “Berbeda dengan Vietnam yang pertumbuhan ekonominya mencapai 8 persen, faktor pendukungnya tidak lain adalah sektor industri,” ujarnya.
Vietnam baru-baru ini mendapatkan pengakuan sebagai negara berpendapatan menengah atas pada bulan Juli 2026. Menurut laporan dari World Bank, Vietnam memiliki tingkat pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita sekitar 4.970 dolar AS, melampaui ambang batas 4.636 dolar AS yang ditetapkan untuk kategori tersebut. “Vietnam membuat kebijakan ramah investasi dan membangun sektor industrinya, sehingga ekonomi negara komunis tersebut bertransformasi menjadi negara industri baru,” jelas Didik.