CIREBON, KOMPAS.com — Pada Selasa pagi, 12 Mei 2026, organisasi lingkungan Sungai Watch mengadakan kegiatan pembersihan saluran air di simpang tiga Kalitanjung, Kelurahan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan yang bertajuk “Run for Rivers” ini bertujuan untuk membersihkan selokan yang dipenuhi berbagai jenis sampah, termasuk plastik, styrofoam, botol kaca, dan limbah rumah tangga yang mengendap di dasar saluran.
Di lokasi, terlihat banyak relawan, masyarakat setempat, serta perangkat Kelurahan Harjamukti yang berpartisipasi langsung dalam pembersihan sungai yang menjadi saluran utama bagi masyarakat. Mereka mengambil sampah yang mengapung dengan menggunakan tangan dan alat penjepit, kemudian memasukkan sampah yang telah dibersihkan ke dalam karung jaring hijau untuk diangkut ke tempat pembuangan akhir.
Kampanye Penyelamatan Sungai
Sam Bencheghib, pendiri Sungai Watch yang merupakan warga negara Prancis, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari kampanye penyelamatan sungai yang dilakukan dari Bali menuju Jakarta dengan jarak sekitar 1.200 kilometer. Dalam kegiatan tersebut, Sam didampingi oleh dua rekannya dari Prancis, Gary dan Kelly. “Ini lari untuk menjaga sungai di Indonesia. Sampai sekarang hampir semua sungai ada sampahnya,” ungkap Sam saat kegiatan berlangsung.
Sam menyoroti bahwa selama perjalanan mereka di wilayah Jawa Barat, mereka menemukan banyak sungai yang dipenuhi sampah, terutama di kawasan Pantura. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara komunitas, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam menangani masalah sampah di sungai dan saluran air. “Yayasan Sungai Watch ini kecil, jadi harus kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas. Kolaborasi ini akan sangat bagus. Semoga perjalanan dan aksi kolaborasi ini bisa menginspirasi pemerintah dan masyarakat luas untuk bersama membersihkan sungai,” tambahnya.
Apresiasi dari Lurah Harjamukti
Lurah Harjamukti, Beny, memberikan apresiasi terhadap aksi kolaborasi berbagai pihak dalam membersihkan saluran air dari tumpukan sampah yang dapat menimbulkan masalah lingkungan. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal, ia telah mengerahkan pegawai kelurahan, pengurus RW, RT, serta masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan tersebut, termasuk tim dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Cirebon.
Beny menjelaskan bahwa lokasi tersebut merupakan titik akhir aliran pembuangan dari wilayah atas, sehingga banyak sampah rumah tangga yang mengendap di saluran air. “Kalau dilihat dari titik ini kan ending saluran pembuangan dari arah atas. Mungkin ini sudah agak lama. Tapi memang plastik itu sifatnya diam saja, tidak hancur, jadi kolaborasi pembersihan ini memang harus dilakukan secara bersama-sama,” jelasnya.
Setelah kegiatan pembersihan, panitia dari Run for Rivers melaporkan bahwa total sampah yang berhasil diangkut mencapai 574,65 kilogram, yang kemudian dibawa menggunakan truk ke tempat pembuangan akhir.