BREAKING Rabu, 27 Mei 2026 01:45 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Selasa, 19 Mei 2026 19:16 WIB

Antrean Panjang Solar di Padang, Warga Mengeluh Seperti Mencari Emas

19 Mei 2026, 19:16 WIB 7x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
S
Shinta Islamadina 7x dibaca · 3 menit baca
Antrean Panjang Solar di Padang, Warga Mengeluh Seperti Mencari Emas
regional.kompas.com

PADANG - Warga di Sumatera Barat, khususnya sopir dan pelaku usaha kecil, mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar. Antrean panjang di berbagai SPBU memaksa mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan solar. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Heru Apriniko, yang telah mengantre sejak pukul 10.00 WIB di SPBU Khatib Sulaiman, Padang Utara, pada Selasa (19/5/2026). Hingga pukul 14.00 WIB, mobil L-300 miliknya baru bisa memasuki area SPBU dan belum mencapai mesin pengisian.

“Ini baru masuk kawasan SPBU dari tadi di badan jalan itu. Sudah empat jam, tapi belum sampai ke mesin pengisian. Paling satu jam lagi,” ungkap Heru.

Antrean Mengular di Jalan Utama

Pantauan di lokasi menunjukkan antrean kendaraan untuk pengisian solar mengular hingga ratusan meter, mengganggu arus lalu lintas di jalan utama Kota Padang. Heru berharap antrean kali ini tidak sia-sia, mengingat sebelumnya ia pernah gagal mendapatkan solar meski sudah menunggu lama karena stok habis.

Solar sangat penting bagi Heru, yang sehari-hari bekerja mengantarkan makanan ringan dari produsen ke berbagai toko di luar Kota Padang. Ia sangat bergantung pada BBM subsidi untuk menjaga biaya operasional tetap terjangkau. Namun, antrean panjang sering mengganggu pekerjaan sehari-harinya.

“Pagi saya harus antre BBM dulu, baru setelahnya bisa mengantar. Kadang sudah malam baru saya sampai ke lokasi,” tuturnya.

Menahan Lapar Sambil Antre

Antrean yang panjang tidak hanya mengganggu waktu kerja, tetapi juga membuat Heru harus menahan lapar. Hingga pukul 14.00 WIB, ia mengaku belum sempat makan siang. “Nanti sajalah makannya, yang penting bensin full saya bisa kerja,” katanya.

Untuk menghemat bahan bakar selama menunggu, ia terpaksa mematikan dan menyalakan mesin mobilnya berulang kali. Heru menilai bahwa antrean panjang solar di Sumatera Barat sudah berlangsung sekitar sebulan terakhir dan tidak hanya terjadi di Kota Padang, melainkan juga di berbagai daerah lainnya. Ia membandingkan situasi ini dengan daerah lain seperti Pekanbaru dan Medan, di mana solar subsidi masih lebih mudah didapatkan.

“Kalau kata saya, mendapatkan solar di Sumbar, sudah sama seperti mencari emas,” ujarnya dengan nada bercanda.

Antrean Panjang yang Pernah Terjadi

Heru juga menceritakan pengalaman antrean sepanjang dua kilometer di Pasaman Barat, di mana ia harus menunggu hampir sembilan jam sebelum bisa mengisi BBM. Ia menyebutkan bahwa salah satu penyebab antrean panjang adalah dugaan praktik penyalahgunaan solar subsidi oleh oknum yang memodifikasi kendaraan untuk mengangkut BBM dan menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi.

“Tindakan ini sudah banyak diketahui oleh masyarakat dan pemangku kebijakan, namun tidak ada langkah nyata,” keluh Heru.

Ia juga menekankan bahwa tingginya harga BBM nonsubsidi membuat banyak pengendara beralih ke solar subsidi, sehingga antrean semakin panjang. Heru berharap pemerintah dapat menambah stok solar di Sumatera Barat dan memperketat pengawasan terhadap penyalahgunaan BBM subsidi. Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan kilang minyak baru di Air Bangis untuk meningkatkan pasokan BBM di wilayah tersebut.

“Sampai saat ini kilang minyak Sumbar cuma satu, jadi perlu ditambah supaya stok juga bertambah,” tuturnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh pengendara lain bernama Ape, yang meminta Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pertamina untuk mengevaluasi ketersediaan stok solar agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.