CILACAP - Cuaca ekstrem masih menjadi tantangan di beberapa daerah di Jawa Tengah. Di Kabupaten Cilacap, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan bahwa sepanjang bulan April 2026, terdapat 34 kejadian bencana. Hujan deras yang disertai angin kencang menjadi penyebab utama, mengakibatkan pohon tumbang, kerusakan rumah, serta gangguan akses jalan.
Rincian Kejadian Bencana
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, menyatakan bahwa cuaca ekstrem merupakan jenis bencana yang paling sering terjadi selama bulan April. "Sebagian besar kejadian dipicu hujan deras dan angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang, rumah rusak hingga akses jalan terganggu," jelas Taryo. Dari total 34 kejadian, 17 di antaranya terkait dengan cuaca ekstrem, sementara 14 kejadian lainnya adalah tanah longsor. Bencana ini tersebar di 12 kecamatan dan 29 desa, mulai dari wilayah barat seperti Dayeuhluhur dan Wanareja hingga kawasan perkotaan.
Dampak Terhadap Masyarakat
Rangkaian bencana tersebut berdampak langsung pada ratusan warga. BPBD mencatat bahwa sebanyak 206 jiwa atau 66 kepala keluarga terpengaruh oleh cuaca ekstrem dan longsor yang terjadi selama bulan April 2026. Sebanyak 20 orang dari delapan kepala keluarga terpaksa mengungsi untuk menghindari risiko bencana susulan. "Kerusakan rumah warga juga cukup signifikan dengan total 89 rumah terdampak, mulai dari rusak ringan hingga roboh," tambah Taryo. Rincian kerusakan mencakup empat rumah yang roboh, enam rumah rusak berat, dua rumah rusak sedang, dan 77 rumah mengalami kerusakan ringan. Selain rumah, fasilitas umum dan infrastruktur seperti jalan, jembatan, talud, sekolah, dan area usaha juga mengalami dampak. Kerugian akibat bencana ini diperkirakan mencapai Rp 617.550.000.
Prakiraan Cuaca dari BMKG
Di tengah tingginya kejadian bencana hidrometeorologi, BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang memprediksi bahwa hujan ringan masih akan terjadi di beberapa wilayah Jawa Tengah pada Rabu (13/5/2026). Wilayah yang diperkirakan akan mengalami hujan ringan mencakup Banjarnegara, Banyumas, Batang, Brebes, Cilacap, Jepara, Kebumen, Kendal, Klaten, Magelang, Pati, Pekalongan, Pemalang, Purbalingga, Purworejo, Tegal, Temanggung, dan Wonosobo. Meski BMKG sebelumnya memperkirakan musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di sebagian wilayah Indonesia, masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim.
"Kalau terjadi kondisi darurat atau tanda-tanda bencana, masyarakat diharapkan segera melapor kepada pemerintah desa maupun petugas BPBD agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat," tutup Taryo.