Industri yang hadir di Tanggamus, Lampung, telah menciptakan peluang kerja dan pelatihan bagi masyarakat yang sebelumnya banyak bergantung pada sektor pertanian serta pekerjaan informal. Berdasarkan data per Agustus 2026, sekitar 90 persen pekerja di pabrik berasal dari masyarakat sekitar.
Pengembangan Keterampilan Tenaga Kerja Lokal
Kepala Pabrik Aqua Tanggamus, Teguh Santoso, menjelaskan bahwa pengembangan tenaga kerja lokal dilakukan melalui pelatihan yang bertujuan agar masyarakat memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. “Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah,” ungkap Teguh pada Senin (17/8/2026).
Sejak mulai beroperasi pada April 2016, perusahaan telah memberikan pelatihan kepada warga setempat mengenai pekerjaan di sektor manufaktur, yang mencakup keselamatan kerja hingga keterampilan teknis. Banyak pekerja yang sebelumnya berprofesi sebagai petani dan pekebun.
Transformasi Melalui Pendidikan dan Pengalaman Kerja
Salah satu pekerja, Yopanda, 38 tahun, dulunya bekerja sebagai petani dan pekerja serabutan. Ia mulai mengenal dunia industri saat terlibat dalam pembangunan pabrik dan bergabung dengan tim engineering. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan melalui program Paket C yang diikuti oleh sekitar 20 warga setempat. Ia juga belajar menggunakan komputer, yang kini menjadi bagian dari pekerjaannya sehari-hari. “Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan,” ceritanya.
Saat ini, setelah hampir sepuluh tahun bekerja di pabrik, Yopanda menjabat sebagai supervisor. Ia menyatakan bahwa pekerjaan di industri telah mengubah kebiasaannya dalam menerapkan disiplin dan keselamatan kerja, termasuk saat kembali bekerja di kebun. “Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan,” ujarnya.
Selain menyerap tenaga kerja, perusahaan juga menjalankan berbagai program lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Sejak 2016 hingga 2026, perusahaan mengklaim telah menanam lebih dari 11.000 pohon dan membangun sekitar 700 rorak di wilayah hulu Pegunungan Tanggamus. Program lainnya meliputi pendampingan petani kopi, penyediaan akses air bersih melalui program WASH kepada 1.037 warga, serta pengelolaan sekitar 378 ton sampah plastik melalui program “Sampahku Tanggung Jawabku”. Di wilayah hilir, perusahaan juga mengembangkan Taman Kehati Galih Batin seluas sekitar 3,2 hektare. Penelitian bersama Universitas Lampung pada 2025 mencatat kawasan tersebut memiliki indeks keanekaragaman hayati 3,16, dengan sedikitnya enam spesies tanaman endemik dan 22 jenis burung.
Bagi masyarakat setempat, kehadiran industri tidak hanya mengubah pilihan pekerjaan, tetapi juga membuka akses terhadap keterampilan dan pendidikan. Dampak positif ini akan semakin kuat jika penyerapan tenaga kerja lokal sejalan dengan peningkatan kapasitas masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang baik.