MANGGARAI, Nusa Tenggara Timur - Gempa dengan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menyebabkan Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai terputus dari akses jalan akibat longsor. Selain itu, aliran listrik dan jaringan telekomunikasi juga mengalami gangguan selama dua hari.
Salah satu warga Kampung Raca Barat, Ayu Febrianti (24), mengungkapkan bahwa seusai gempa, masyarakat merasakan ketakutan dan trauma, terutama karena adanya gempa susulan. Sejak hari pertama, ribuan penduduk telah menempati posko-posko darurat yang disediakan. Ia menambahkan bahwa kondisi wilayah Reok saat itu terasa seperti kota mati karena tidak adanya aliran listrik. Pada malam hari, warga terpaksa mengandalkan lampu senter dari ponsel dan senter baterai untuk penerangan.
Kesulitan Akses dan Bantuan
Camat Reok, Rita Udin, menjelaskan bahwa wilayahnya sempat terisolasi akibat jalan penghubung menuju kota Ruteng terputus oleh longsor di beberapa lokasi, sehingga kendaraan tidak dapat melintas dengan baik. Menurutnya, kondisi jalan baru dapat dilalui dengan lancar pada hari Senin, 17 Agustus 2026. "Hari pertama benar-benar terisolir, kemarin sudah terbuka tapi tidak lancar, hari ini baru lancar," ujarnya.
Selama masa isolasi, pengiriman bantuan ke titik-titik pengungsian menjadi sangat sulit. Udin menambahkan bahwa terputusnya jaringan komunikasi menyulitkan mereka dalam berkoordinasi untuk penanganan bencana. Pada hari pertama setelah gempa, evakuasi warga dilakukan secara spontan, namun mereka menghadapi kendala karena terbatasnya jumlah relawan dan akses untuk mendata di masing-masing posko.
Situasi di Posko Pengungsian
Ayu juga menyampaikan bahwa mereka mengandalkan genset untuk mendapatkan listrik di posko, yang digunakan secara bergantian untuk mengisi daya perangkat. "Kami bergantung listrik dari genset di posko. Gantian untuk cas," tambahnya.
Situasi di Reok menunjukkan betapa beratnya dampak dari bencana ini bagi masyarakat setempat. Mereka berharap agar bantuan segera datang untuk meringankan beban yang mereka hadapi.