MEDAN - Sejumlah perjalanan kereta api di Sumatera Utara mengalami keterlambatan yang mencapai 52 menit setelah gempa dengan magnitudo 6,4 mengguncang Kabupaten Simalungun pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 17.54 WIB. PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional I Sumatera Utara menerapkan kebijakan berhenti luar biasa (BLB) untuk semua perjalanan kereta setelah gempa terjadi.
Manager Humas Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menjelaskan bahwa semua perjalanan kereta dihentikan sementara untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalur dan prasarana demi memastikan keselamatan. "Penerapan prosedur pengamanan BLB tersebut sempat menyebabkan keterlambatan pada sejumlah perjalanan kereta api di Sumatera Utara hingga 52 menit karena harus menunggu jalur selesai diperiksa," ungkap Anwar dalam keterangan tertulisnya.
Pemeriksaan Jalur dan Prasarana
Menurut Anwar, pemeriksaan terhadap jalur dan prasarana selesai dilakukan pada pukul 18.50 WIB dan dinyatakan aman untuk dilalui. KAI kemudian melanjutkan operasional kereta api secara bertahap dengan memperhatikan batas kecepatan yang diizinkan. "Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan akibat keterlambatan perjalanan ini," tambahnya.
Pemeriksaan yang dilakukan mencakup kondisi jalur rel, bangunan stasiun, serta prasarana perkeretaapian lainnya. "Selanjutnya, operasional kereta api mulai dijalankan kembali secara bertahap sesuai dengan batas kecepatan yang diizinkan," jelas Anwar. KAI juga terus memantau situasi pasca-gempa untuk memastikan semua prasarana di wilayah Divre I Sumatera Utara dalam keadaan aman untuk digunakan.
Detail Gempa di Simalungun
Sebelumnya, gempa dengan kekuatan magnitudo 6,4 mengguncang Kabupaten Simalungun pada Sabtu sore. Getaran gempa terasa hingga Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan bahwa gempa terjadi pada pukul 17.54.52 WIB. "Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, diguncang gempa bumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,4 pada kedalaman 168 km," kata Wijayanto.
Gempa tersebut terletak pada koordinat 2,91 derajat Lintang Utara dan 98,93 derajat Bujur Timur, dengan lokasi di darat, tepatnya di bagian tenggara Kabupaten Simalungun. Wijayanto memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi memicu tsunami. "Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," tambahnya.
Berdasarkan analisis BMKG, gempa ini merupakan gempa bumi menengah yang diduga terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme sesar geser turun (oblique normal fault)," rincinya.