Malinau - Sebuah video yang menunjukkan kondisi jalan yang sangat buruk di Apokayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, yang berbatasan dengan Malaysia, telah beredar luas. Seorang sopir yang diduga berasal dari Malaysia mengeluhkan jalan yang berlumpur, sehingga membuat kendaraan terjebak dan penumpang mengalami kelaparan.
Menurut laporan yang diterima, pria tersebut bekerja sebagai sopir yang mengangkut sembako dari Malaysia ke Apokayan dan memperlihatkan antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat. Mereka merupakan rombongan dari Apokayan yang sedang dalam perjalanan menuju Konferensi Wilayah (Konwil) IV Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Kaltara.
Kondisi Jalan yang Memprihatinkan
Pria tersebut mengungkapkan, "Perusahaan Indon kuat tipu lah. Tengoklah anak-anak di sini sudah menangis dan menahan lapar karena seharian menunggu surutnya air. Perusahaan Indon bikin tipu-tipu masyarakat saja. Indon bikin jalan ini tidak pandai Ho, semua kendaraan nyangkut dan tidak bisa lewat," dengan logat Melayu yang khas.
Dia menambahkan bahwa kendaraan harus menunggu air surut agar bisa melewati jalur yang sangat rusak. Selain itu, pria tersebut juga mempertanyakan keberadaan alat berat di lokasi yang dinilai tidak melakukan perbaikan, terutama di titik yang dikenal sebagai Jembatan 35.
Pernyataan Resmi dari Pihak Berwenang
Setim Ala, Plt Camat Kayan Hulu sekaligus Kepala Badan Perbatasan Kabupaten Malinau, mengonfirmasi insiden yang dialami oleh warga yang terjebak. Dia juga memberikan klarifikasi mengenai alat berat dan status jalan yang menjadi sorotan. "Jalan yang masyarakat lalui selama ini sebenarnya adalah jalan trans nasional yang merupakan tanggung jawab penuh pemerintah pusat. Pemerintah Kabupaten Malinau sudah berupaya memperbaiki semampunya menggunakan alat dari kecamatan," jelas Setim.
Setim menegaskan bahwa alat berat yang ada merupakan bantuan dari Pemkab Malinau dan bukan untuk menangani jalan nasional. Dia juga membenarkan bahwa kontingen yang terjebak mengalami kelaparan hingga ada yang jatuh sakit. Kontingen yang terdiri dari Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Selatan, dan Kayan Hilir awalnya memperkirakan perjalanan hanya memakan waktu satu hari.
“Mereka menyiapkan makanan untuk perjalanan satu hari. Ternyata di jalan ada masalah kubangan lumpur dan jembatan putus, sehingga harus menunggu air surut. Bertahan berhari-hari tanpa bekal tambahan, wajar jika ada warga yang asam lambungnya kambuh,” tambah Setim.