Kenangan akan keharmonisan saat Idul Adha masih terasa di daerah pedalaman Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hewan kurban yang disembelih di wilayah ini menjadi lambang toleransi antarwarga. Di Desa Majener, Papua Barat, yang mayoritas penduduknya nonmuslim, pelaksanaan kurban memerlukan koordinasi yang baik serta izin dari tokoh adat dan masyarakat setempat.
Dzikri Syahrial Habibi, yang bertanggung jawab atas penyaluran kurban di Darul Abror, menyatakan bahwa umat Islam di daerah tersebut berusaha keras untuk menjaga tradisi dan syiar Islam melalui kegiatan kurban, sekaligus merawat kerukunan antarumat beragama. “Walaupun kami minoritas, kami ingin tetap menghidupkan budaya Islam dan berbagi kepada sesama, termasuk salah satunya melalui momen kurban ini,” ungkap Dzikri.
Kebahagiaan Bersama Daging Kurban
Menariknya, kebahagiaan yang dihadirkan oleh daging kurban di Papua Barat tidak hanya dirasakan oleh warga Muslim. Daging kurban juga dibagikan secara merata kepada tetangga nonmuslim di sekitar pesantren. Menurut Dzikri, tindakan ini menjadi simbol nyata dari kebersamaan dan toleransi antarwarga di pelosok Papua. Ia juga menambahkan bahwa bantuan kurban tahun ini telah memberikan semangat baru yang luar biasa bagi masyarakat setempat.
Sebagai bentuk rasa syukur dan kemandirian, panitia kurban di daerah tersebut kini mulai berinisiatif untuk membuat tabungan kurban agar tahun depan mereka dapat melaksanakan penyembelihan secara mandiri.
Harapan di NTT
Di NTT, warga Kampung Lamakera, Desa Motonwutun, Kecamatan Solor Timur, juga merasakan haru. Setelah bertahun-tahun tidak melaksanakan penyembelihan hewan kurban karena keterbatasan akses dan masalah administrasi, mereka akhirnya dapat menikmati daging kurban bersama. Satu ekor sapi yang disumbangkan oleh Rumah Amal Salman menjadi penantian yang terwujud. Sebelumnya, pelaksanaan kurban hanya terpusat di Masjid Al Ijtihad, Watobuku, yang letaknya cukup jauh.
Kepala Desa Motonwutun, Mirdan Muhammad, menjelaskan bahwa warganya jarang mengonsumsi daging merah karena lokasi desa yang berada di pesisir pantai, sehingga mereka lebih akrab dengan hasil laut. Kehadiran daging sapi ini membawa kebahagiaan yang luar biasa. “Warga di sini sehari-hari lebih banyak makan ikan karena tinggal di wilayah pantai. Kalau dihitung, mungkin dalam setahun hanya tujuh sampai sepuluh kali makan daging,” kata Mirdan.
Sapi seberat sekitar 300 kilogram tersebut kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan merata kepada 203 warga. Mirdan menambahkan bahwa meskipun hanya satu ekor sapi, masyarakat di pedalaman NTT merasa sangat bersyukur. Bagi mereka, momen kurban memiliki makna penting yang lebih dalam daripada sekadar nilai ekonomi, yaitu berkah spiritual yang mendalam.
“Momen kurban ini menjadi yang sangat ditunggu oleh warga. Terlebih kami juga ingin menjalankan sunnah para nabi, di mana kurban dimaknai bukan hanya tentang menyembelih, tetapi juga sebagai bentuk refleksi ketaatan, keikhlasan, dan kesabaran dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial,” imbuh Mirdan.
Mirdan berharap agar kepedulian dari para donatur tidak hanya berhenti pada tahun ini saja. Ia ingin penyaluran kurban ke wilayah terpencil seperti Lamakera dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang agar warga merasakan kebahagiaan yang sama seperti masyarakat di perkotaan.