BANGLI - Liburan keluarga yang dinanti di Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, berubah menjadi tragedi. Seorang anak berinisial SYS (6) asal Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), ditemukan tewas setelah tenggelam di kolam renang privat di salah satu area glamping di Kecamatan Kintamani. Peristiwa memilukan ini terjadi pada Senin, 14 Juli 2026, sekitar pukul 17.00 Wita.
Keluarga korban baru saja tiba dan melakukan check-in di akomodasi glamping tersebut. Setelah menempati kamar, mereka langsung memanfaatkan kolam renang privat yang tersedia. Pada saat kejadian, SYS sedang berenang bersama ayahnya, FS (34), dan ibunya, R (34).
Detail Kejadian
Kolam renang privat tersebut memiliki kedalaman sekitar 130 sentimeter. Diduga, saat berenang, SYS tidak mengenakan pelampung yang seharusnya disediakan oleh pengelola glamping. Kapolsek Kintamani, Kompol I Made Puja Rimbawa, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan orang tua korban, bocah tersebut sempat ditinggal tanpa pengawasan di area kolam renang. Ibu korban masuk ke toilet, sementara ayahnya masuk ke kamar untuk mengganti popok adik SYS yang masih balita.
"Saat ayah korban kembali ke kolam, korban sudah ditemukan dalam kondisi tenggelam," ungkap Kompol I Made Puja Rimbawa saat dikonfirmasi.
Setelah menyadari bahwa anak mereka tenggelam, orang tua SYS langsung panik dan berusaha memberikan pertolongan pertama. FS, yang berprofesi sebagai perawat, segera melakukan tindakan penyelamatan sambil berteriak meminta bantuan. Mendengar teriakan tersebut, staf penginapan segera datang membantu. Dalam situasi darurat, SYS langsung dibawa ke puskesmas terdekat menggunakan sepeda motor oleh salah satu karyawan glamping untuk mendapatkan penanganan medis.
Upaya Penyelamatan dan Investigasi
Meski tim medis berusaha melakukan pertolongan selama sekitar satu jam, nyawa bocah malang tersebut tidak dapat diselamatkan. Kompol Puja Rimbawa menambahkan bahwa pihak Polsek Kintamani telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan menggali keterangan dari beberapa saksi.
Hasil pemeriksaan luar oleh tenaga medis puskesmas menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Ciri-ciri fisik korban menunjukkan akibat tenggelam, seperti keluarnya busa dari mulut dan hidung serta kondisi kulit yang mengerut akibat terlalu lama terendam air. Keluarga korban telah mengikhlaskan kepergian SYS dan menerima insiden ini sebagai musibah, serta memutuskan untuk tidak mengajukan keberatan hukum.
Pada malam harinya, jenazah SYS langsung diberangkatkan dari Bali menuju kampung halamannya di Lombok, NTB, untuk dimakamkan oleh keluarga.