Jakarta, CNN Indonesia -- Sindrom Tourette dikenal luas melalui gejala yang paling mencolok, seperti gerakan berulang dan suara yang muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini ditandai dengan adanya tic motorik dan vokal yang sulit untuk dikendalikan, dengan variasi tingkat keparahan yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari penderitanya.
Mengacu pada jurnal The Lancet Neurology, sindrom Tourette merupakan kondisi kronis yang mekanisme penyebabnya belum sepenuhnya dipahami. Meskipun sering kali dikaitkan dengan faktor genetik, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada faktor non-genetik dan pemicu sehari-hari yang juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko serta frekuensi munculnya tic. Namun, faktor-faktor ini tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal, melainkan sebagai elemen yang dapat memperburuk kondisi.
Kondisi Kehamilan dan Persalinan
Faktor pertama yang sering dibahas adalah kondisi yang dialami selama kehamilan hingga persalinan. Dalam kajian yang berjudul The Aetiology of Tourette Syndrome and Chronic Tic Disorder in Children and Adolescents, dijelaskan bahwa riwayat kesehatan perinatal, yang mencakup kondisi dari masa kehamilan hingga setelah kelahiran, dapat berperan dalam meningkatkan risiko gangguan tic. Beberapa kondisi yang sering dikaitkan meliputi berat badan lahir rendah, komplikasi saat kehamilan atau persalinan, stres psikologis ibu, mual dan muntah berat di trimester pertama, serta penggunaan obat-obatan tertentu selama kehamilan. Meskipun demikian, tidak semua ibu dengan kondisi ini akan melahirkan anak yang menderita Tourette.
Infeksi Selama Kehamilan dan pada Anak
Infeksi yang terjadi selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko gangguan tic pada anak. Penelitian besar yang dipublikasikan dalam jurnal Biological Psychiatry menemukan adanya hubungan antara infeksi pada ibu hamil dan infeksi yang dialami anak di usia dini dengan peningkatan risiko gangguan tic, termasuk sindrom Tourette. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sibling-controlled, yang membandingkan saudara kandung, sehingga hasilnya lebih kuat dalam menunjukkan pengaruh faktor lingkungan. Paparan infeksi pada fase awal kehidupan dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf anak, yang selanjutnya berhubungan dengan munculnya tic.
Merokok Selama Kehamilan
Paparan terhadap asap rokok selama kehamilan, baik sebagai perokok aktif maupun pasif, sering kali dibahas dalam konteks risiko sindrom Tourette. Namun, meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal BMC Public Health menunjukkan bahwa merokok saat hamil tidak memiliki hubungan signifikan dengan sindrom Tourette secara spesifik. Meski demikian, paparan rokok selama kehamilan tetap terkait dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak, sehingga tetap menjadi faktor penting dalam kesehatan kehamilan.
Stres dan Kecemasan
Stres merupakan salah satu faktor yang sering disebutkan dalam konteks gejala Tourette. Menurut National Health Service (NHS), tic dapat dipicu oleh stres, dan berbagai penelitian menunjukkan bahwa keparahan tic cenderung meningkat saat individu menghadapi tekanan emosional. Dengan kata lain, stres bukanlah penyebab utama Tourette, tetapi bisa menjadi pemicu yang membuat tic muncul lebih sering dan lebih sulit untuk dikendalikan.
Kekurangan Tidur dan Kelelahan
Kelelahan juga menjadi pemicu yang umum, di mana kondisi fisik yang lelah dapat mempermudah munculnya tic. Anak-anak dengan Tourette sering kali memiliki pola tidur yang tidak teratur, yang dapat berkontribusi pada gejala yang lebih parah. Tidur yang tidak berkualitas, kurang istirahat, atau kelelahan berkepanjangan dapat membuat tubuh dan otak lebih sensitif, sehingga tic menjadi lebih terlihat.
Penggunaan Layar Berlebihan
Kebiasaan sehari-hari seperti terlalu lama menatap layar juga mulai mendapat perhatian. Sebuah studi dari Pediatric Neurology menemukan bahwa anak-anak dengan Tourette yang menghabiskan waktu di depan layar lebih dari dua jam per hari cenderung memiliki masalah tidur yang lebih buruk. Meskipun layar bukan penyebab langsung Tourette, jika penggunaan layar yang berlebihan mengganggu pola tidur, maka gejala tic dapat muncul lebih sering.
Emosi yang Intens
Selain emosi negatif seperti stres atau kecemasan, emosi yang terlalu kuat juga dapat memicu tic. NHS mencatat bahwa perasaan bersemangat yang berlebihan juga dapat membuat tic lebih terlihat. Oleh karena itu, bagi sebagian orang dengan Tourette, tic dapat lebih sering muncul dalam situasi yang ramai, menegangkan, atau sangat emosional.
Dari berbagai penelitian yang ada, dapat disimpulkan bahwa sindrom Tourette tidak dapat dijelaskan dengan satu penyebab tunggal. Sebaliknya, kondisi ini dipahami sebagai hasil dari kombinasi berbagai faktor, termasuk genetik, fungsi dan perkembangan otak, kondisi selama kehamilan, serta paparan awal kehidupan dan pemicu sehari-hari seperti stres, kurang tidur, dan kelelahan. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah memandang Tourette sebagai kondisi yang kompleks, bukan sebagai akibat dari satu faktor tertentu.