BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 06:51 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Rabu, 01 Jul 2026 05:21 WIB

Waspadai Nyeri Lutut, Bisa Menjadi Tanda Osteoartritis

01 Jul 2026, 05:21 WIB 4x dibaca 4 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
B
Bima Mandala Sakti 4x dibaca · 4 menit baca
Ilustrasi. Awas terkena osteoartritis yang bisa menyebabkan nyeri sendi hingga sulit bergerak. (iStockphoto/bymuratdeniz)
Ilustrasi. Awas terkena osteoartritis yang bisa menyebabkan nyeri sendi hingga sulit bergerak. (iStockphoto/bymuratdeniz)

Nyeri pada lutut sering kali dianggap sebagai hal biasa, terutama seiring bertambahnya usia. Namun, jika rasa sakit tersebut terus berlanjut dan mengganggu aktivitas harian, hal ini bisa menjadi indikasi osteoartritis, salah satu penyakit sendi yang paling umum dialami oleh masyarakat.

Sesuai dengan informasi dari Cleveland Clinic, osteoartritis (OA) adalah penyakit degeneratif yang terjadi ketika tulang rawan pada sendi mengalami kerusakan atau penipisan. Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan yang memungkinkan tulang bergerak dengan lancar tanpa saling bergesekan. Ketika bantalan ini mengalami kerusakan, gesekan antar tulang dapat memicu nyeri, peradangan, dan kekakuan pada sendi. Lutut adalah bagian tubuh yang paling sering terkena osteoartritis karena harus menopang berat badan setiap hari saat berdiri, berjalan, berlari, dan menaiki tangga.

Gejala yang Muncul Secara Bertahap

Osteoartritis biasanya berkembang secara perlahan. Pada tahap awal, beberapa orang mungkin tidak merasakan gejala meskipun kerusakan pada tulang rawan sudah mulai terjadi. Seiring berjalannya waktu, penderita akan mulai merasakan nyeri pada lutut, terutama saat berjalan, berdiri dalam waktu lama, atau menaiki tangga. Selain itu, lutut juga dapat terasa kaku setelah bangun tidur atau setelah duduk dalam waktu lama.

Menurut JAMA, selain nyeri, ada beberapa gejala lain yang perlu diperhatikan, seperti:

  • lutut bengkak
  • muncul bunyi berderak atau bergesekan saat digerakkan
  • sendi terasa goyah, hingga lutut kadang-kadang seperti terkunci dan sulit digerakkan.

Berdasarkan tingkat keparahannya, osteoartritis dibagi menjadi empat tahap. Pada tahap awal, kerusakan tulang rawan masih ringan dan biasanya belum menimbulkan gejala. Saat memasuki tahap ringan hingga sedang, rasa nyeri mulai muncul disertai kekakuan dan keterbatasan gerak. Pada tahap berat, bantalan sendi hampir habis sehingga tulang saling bergesekan, menyebabkan nyeri hebat yang dapat mengganggu mobilitas.

Penyebab dan Faktor Risiko Osteoartritis

Penyebab utama osteoartritis adalah keausan tulang rawan yang disebabkan oleh proses penuaan. Namun, ada beberapa faktor yang dapat mempercepat kerusakan sendi. Individu dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi karena lutut harus menopang beban tubuh yang lebih berat. Selain itu, riwayat cedera lutut, aktivitas fisik yang memberikan tekanan berulang pada sendi, kelainan bentuk tungkai, dan faktor keturunan juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami osteoartritis.

Jika tidak ditangani, osteoartritis dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti melemahnya otot di sekitar lutut, terbentuknya taji tulang, munculnya kista Baker di belakang lutut, serta gangguan psikologis akibat nyeri kronis yang berkepanjangan.

Penanganan Osteoartritis

Penanganan osteoartritis disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Pada tahap awal, dokter biasanya merekomendasikan perubahan gaya hidup, seperti menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, menjalani fisioterapi, serta mengonsumsi obat pereda nyeri jika diperlukan. Namun, jika kerusakan sendi sudah parah dan terapi konservatif tidak lagi efektif, operasi penggantian sendi lutut (total knee replacement/TKR) dapat menjadi pilihan.

Perkembangan teknologi telah membuat prosedur ini semakin presisi. Salah satunya adalah melalui sistem bedah robotik CORI, yang membantu dokter memetakan anatomi lutut pasien secara tiga dimensi selama operasi berlangsung. Dengan pemetaan ini, ukuran dan posisi implan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Dokter Spesialis Ortopedi dari Siloam Hospitals Bali, Erwin Saspraditya, menyatakan bahwa teknologi robotik dapat meningkatkan akurasi dalam operasi penggantian sendi lutut. "Operasi lutut dengan teknologi robotik ini merupakan langkah besar dalam pelayanan ortopedi modern. Dengan teknologi CORI, proses operasi penggantian sendi lutut menjadi lebih presisi sehingga memungkinkan dokter melakukan pemotongan jaringan lebih minimal, perdarahan lebih sedikit, serta mendapatkan penilaian objektif terhadap kondisi ligamen pasien. Harapannya, pasien memperoleh hasil operasi yang lebih optimal dengan proses pemulihan yang lebih cepat," jelas Erwin.

Rosmiaty Tio, Sales Director Advance Treatment Tawada Healthcare, menambahkan bahwa teknologi CORI bekerja dengan memetakan anatomi tulang pasien dalam bentuk tiga dimensi secara langsung saat operasi. Dari hasil pemetaan tersebut, dokter dapat merencanakan ukuran dan posisi implan serta menentukan sudut pemotongan tulang secara lebih akurat. "Teknologi CORI memungkinkan pemasangan implan menjadi lebih akurat dan pelepasan ligamen yang dilakukan saat tindakan menjadi lebih minimal. Dengan demikian, diharapkan proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat dan tingkat kepuasan setelah operasi juga meningkat," imbuh Rosmiaty.

Tawada Healthcare telah menghadirkan teknologi robotik ortopedi ini di beberapa rumah sakit di Indonesia, termasuk Siloam Hospitals Bali, sebagai upaya untuk memberikan pilihan penanganan yang lebih presisi bagi pasien dengan gangguan sendi lutut.