BREAKING Minggu, 14 Jun 2026 11:52 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Minggu, 14 Jun 2026 10:03 WIB

Harga TBS Sawit di Bangka Mencapai Rp 3.000 per Kilogram, Namun Ketersediaan Pupuk Menjadi Kendala

14 Jun 2026, 10:03 WIB 3x dibaca 2 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
S
Shinta Islamadina 3x dibaca · 2 menit baca
Harga TBS Sawit di Bangka Mencapai Rp 3.000 per Kilogram, Namun Ketersediaan Pupuk Menjadi Kendala
regional.kompas.com

BANGKA - Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kepulauan Bangka Belitung, yang sebelumnya mengalami penurunan, kini menunjukkan stabilitas di level Rp 3.000 per kilogram di pabrik. Sementara itu, harga di tingkat pengepul berkisar antara Rp 2.700 hingga Rp 2.800 per kilogram. Para petani menilai pergerakan harga ini positif, seiring dengan meningkatnya permintaan di pasar. Mereka berharap agar kenaikan harga TBS diimbangi dengan ketersediaan pupuk yang terjangkau.

“Aspirasi yang kita sampaikan beberapa waktu lalu hampir 90 persen telah terpenuhi. Sekarang tantangannya adalah harga pupuk yang cenderung naik akhir-akhir ini,” ungkap Jamaludin, Plt Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bangka Belitung, saat dihubungi pada Sabtu (13/6/2026).

Kenaikan Harga TBS dan CPO

Jamaludin menambahkan bahwa harga TBS sawit seharusnya mengalami kenaikan sejalan dengan meningkatnya harga lelang crude palm oil (CPO). Pada penawaran minggu lalu, harga CPO di lelang Franco Belawan dan Dumai tercatat sebesar Rp 15.450 per kilogram, sementara di Franco Teluk Bayur mencapai Rp 15.095 dan FOB Talang Duku Rp 15.025 per kilogram. “Minyak sawit kita dibutuhkan oleh berbagai negara, apalagi sekarang ada program minyak sawit untuk bahan bakar solar mulai dari 50 persen sampai 100 persen akan diambil dari CPO,” jelasnya.

Tantangan Ketersediaan Pupuk

Jamaludin berharap agar stabilisasi harga jual TBS dapat berdampak positif pada peningkatan produksi di kalangan petani. Namun, hal ini akan terhambat jika biaya operasional, termasuk harga pupuk, terus meningkat tanpa pengendalian. “Harga pupuk yang mahal dan musim kemarau yang akan kita hadapi, bisa membuat produksi anjlok,” tuturnya.

Saat ini, harga pupuk NPK compact mencapai Rp 630.000 per kemasan, urea granul Rp 625.000, KCL mahkota Rp 480.000, dan dolomite Rp 60.000 per kemasan. Kenaikan harga pupuk berkisar antara Rp 40.000 hingga Rp 70.000 per kemasan, yang mengharuskan petani untuk menyiapkan modal lebih besar, selain biaya perawatan dan jasa angkut yang harus ditanggung.

“Komoditas sawit sangat berdampak pada lapangan kerja dan perekonomian daerah, jadi mohon pemerintah memperhatikan tata kelolanya dan ketersediaan pupuk dengan harga lebih murah,” harap Jamaludin. Di pabrik, potong wajib rata-rata berkisar 3 persen, dan saat hujan bisa mencapai 5 hingga 7 persen.