SURABAYA - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Kebun Binatang Surabaya (KBS) menginformasikan bahwa selama periode 2016 hingga 2024, hanya satu gajah bernama Dumbo yang meninggal dunia. Pernyataan ini disampaikan menyusul dugaan kasus korupsi terkait dana operasional dan pakan satwa yang melibatkan Choirul Anwar, mantan Direktur Utama KBS.
Nurika Widyasanti, Direktur Operasional dan Umum Perumda KBS, menjelaskan bahwa gajah Dumbo meninggal pada tahun 2021 akibat penyakit elephant herpesvirus. "Selama periode tersebut hanya ada satu satwa yang meninggal, gajah Dumbo karena memang terserang penyakit. Sudah kita upayakan semaksimal mungkin untuk dilakukan pengobatan, tapi tetap tidak terselamatkan," ungkapnya.
Kematian Satwa dan Penyebabnya
Nurika menambahkan bahwa meskipun terdapat beberapa kasus kematian satwa, penyebabnya adalah faktor alami seperti usia dan bukan disebabkan oleh kekurangan pakan. "Adapun terjadinya satwa mati itu pastinya sesuatu hal kematian yang normal bukan menjadi suatu kematian yang dikarenakan kelalaian dan lain sebagainya," terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa jumlah kematian satwa setiap tahunnya tidak mengalami perubahan signifikan. "Kembali lagi bahwa dari sisi jumlah kematian atau mortalitas ini masih dalam kategori batas yang kewajaran dan dari sisi kematian pun juga bukan dikarenakan kelalaian tapi dikarenakan alami terjadi sebagaimana makhluk hidup," ucapnya.
Foto-Foto Satwa yang Beredar
Nurika menjelaskan bahwa foto-foto yang beredar di media sosial, termasuk gambar gajah Dumbo yang telah meninggal, Melani harimau Sumatera yang tampak kurus pada tahun 2013, serta Bety orangutan yang meninggal akibat paru-paru pada tahun 2013, adalah foto lama. Ia menegaskan bahwa gambar-gambar tersebut diambil sebelum pengelolaan oleh Pemerintah Kota yang kini menjadi Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya. "Jadi kalau untuk satwa-satwa yang saya lihat di gambar sebelumnya itu merupakan gambar lama dan satwa yang memang saat itu belum dalam pengelolaan Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya," jelasnya.
Saat ini, KBS memastikan bahwa pemberian pakan satwa dilakukan secara rutin dua kali sehari, di pagi dan sore hari. "Kalau untuk pemberian pakan sebenarnya secara normal ini kita berikan secara rutin sesuai spesies dan karakteristik satwa sehari dua kali di pagi dan sore hari sebelum perawat meninggalkan tempat," tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi satwa di KBS saat ini sangat baik. "Kami selalu mengupayakan pemeliharaan maupun peningkatan kualitas secara berprogres dan berkelanjutan," katanya. Nurika menegaskan komitmen lembaga konservasi hewan untuk terus mengutamakan kesejahteraan dan kesehatan satwa melalui berbagai aspek, termasuk pemberian pakan yang baik dan pemeliharaan yang optimal.