SEMARANG – Musim kemarau yang dimulai sejak bulan Juni tahun ini telah menyebabkan kekeringan di 14 kabupaten di Jawa Tengah. Akibat kondisi ini, sebanyak 12.208 kepala keluarga atau sekitar 35.727 jiwa mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih.
Daerah Terdampak dan Permohonan Bantuan
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan bahwa daerah yang paling membutuhkan pasokan air bersih meliputi Klaten, Banjarnegara, Pemalang, Purbalingga, dan Blora. "Yang mengajukan permohonan bantuan suplai air bersih ke BPBD saat ini baru 14 kabupaten. Total yang terdampak mencapai 12.208 KK atau 35.727 jiwa," jelas Bergas saat dihubungi pada Rabu (15/7/2026).
Persiapan dan Distribusi Air Bersih
Secara keseluruhan, kapasitas air bersih yang telah disiapkan mencapai sekitar 129 juta liter untuk 29 kabupaten/kota. Namun, hingga saat ini, jumlah air yang sudah didistribusikan kepada masyarakat baru sekitar 1,6 juta liter, karena sebagian besar stok masih disiapkan untuk menghadapi puncak musim kemarau. "Yang sudah terdistribusi baru sekitar 1,6 juta liter. Artinya stok masih sangat mencukupi untuk kebutuhan ke depan," tambahnya.
Bergas juga menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan saat ini masih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan air bersih melalui distribusi menggunakan truk tangki. BPBD Provinsi turut membantu dengan menyediakan tandon air berkapasitas 5.000 liter, terpal untuk penampungan darurat, serta meminjamkan truk tangki kepada daerah-daerah yang membutuhkan. "Kemarin kami juga sudah merestorasi empat truk tangki untuk kemudian diperbantukan ke daerah-daerah yang membutuhkan agar distribusi air bersih lebih cepat," ungkapnya.
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
Bergas menilai bahwa kondisi kekeringan tahun ini lebih ringan dibandingkan dengan tahun 2023, di mana 33 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah harus mendapatkan distribusi air bersih dari BPBD. "Kalau dibandingkan 2023 jauh lebih ringan. Waktu itu 33 kabupaten/kota harus didistribusi air bersih. Sekarang baru 14. Isian waduk juga masih aman sehingga untuk kebutuhan pertanian dan air baku PDAM masih mencukupi," jelasnya.
Meski demikian, BPBD memprediksi bahwa jumlah daerah yang terdampak kemungkinan akan bertambah, karena puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. "Kemungkinan bisa bertambah sekitar lima kabupaten lagi sesuai perkembangan musim. Tetapi setelah itu diperkirakan hujan mulai turun kembali menjelang akhir tahun," tutup Bergas.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, BPBD bersama pemerintah pusat sedang menyiapkan berbagai program untuk mengurangi risiko kekeringan. Ini termasuk pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), kajian geolistrik untuk pencarian sumber air tanah di Kabupaten Semarang, Magelang, Banjarnegara, dan Wonogiri, serta pengajuan pembangunan sumur bor kepada BNPB.