YOGYAKARTA - Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Yogyakarta terus mengalami perkembangan yang positif. Hingga pertengahan tahun 2026, jumlah keluarga yang terdaftar dalam program ini mencapai sekitar 40.000, meningkat dari 37.000 keluarga pada tahun sebelumnya. Pemerintah Kota Yogyakarta menilai bahwa peningkatan partisipasi masyarakat ini berperan penting dalam mengurangi pembuangan sampah liar di berbagai daerah di kota.
Peningkatan Partisipasi Masyarakat
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menyatakan bahwa perubahan perilaku masyarakat terus didorong melalui Gerakan Mas JOS. "Rekonstruksi sosial atau mengubah budaya masyarakat terus digalakkan. Dan hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan jumlah keluarga Mas JOS. Jadi keluarga yang sudah memilah itu diberi stiker," kata Rajwan.
Selain pertambahan jumlah keluarga, fasilitas pengelolaan sampah juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2026, jumlah bank sampah di Kota Yogyakarta mencapai 713 unit, naik dari 698 unit pada tahun sebelumnya. Rajwan menambahkan bahwa DLH akan terus memberikan pendampingan melalui juru pilah sampah (Jumilah), fasilitator kelurahan, forum bank sampah, serta kader PKK agar lebih banyak warga yang mengelola sampah dari sumbernya.
Lima Langkah Pengelolaan Sampah
Pemerintah Kota Yogyakarta mengedukasi masyarakat melalui Gerakan Mas JOS untuk menerapkan lima langkah utama dalam pengelolaan sampah. Kelima langkah tersebut meliputi: memisahkan sampah berdasarkan jenis; membawa sampah anorganik ke bank sampah; mengolah sampah organik; menghabiskan makanan agar tidak menjadi sampah; dan membiasakan penggunaan wadah yang dapat digunakan kembali. Pemkot berharap langkah-langkah ini dapat menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat sehingga volume sampah yang perlu diangkut ke tempat pengolahan dapat berkurang.
Rajwan juga mencatat bahwa dampak dari Gerakan Mas JOS terlihat dari meningkatnya pengelolaan sampah di tingkat hulu. Pada tahun 2026, volume sampah yang dikelola langsung dari sumbernya mencapai rata-rata 47,68 ton per hari, meningkat dibandingkan dengan rata-rata 21,20 ton per hari pada tahun 2025. Pengelolaan ini dilakukan melalui berbagai metode, termasuk bank sampah, ember organik, biopori jumbo, pengolahan sampah daun, hingga residu pasar.
DLH terus mengembangkan metode emberisasi dan biopori jumbo untuk memperkuat pengelolaan sampah organik. Saat ini, terdapat sekitar 600 titik biopori jumbo yang tersebar di 45 kelurahan di Kota Yogyakarta. "Kemudian ada forum bank sampah dan PKK. Ini terus kita gerakkan supaya nanti semakin banyak keluarga Mas JOS, sehingga semakin banyak sampah yang bisa dikelola sejak dari sumbernya," tambah Rajwan.